Alkisah ada seorang putri.
Sang puteri bertemu dengan seorang ksatria dan ia jatuh cinta.
Sang putri akhirnya menikah dengan si ksatria.
Mereka tinggal di kastil pemberian orang tua sang putri.
Ternyata ksatria yang baru dikenalnya dan membuatnya mabuk kepayang hanyalah seorang penipu.
Ia hanyalah seorang penjahat yang melarikan diri dari negeri seberang dan berpura-pura layaknya seorang ksatria.
Terlebih lagi setelah menikahinya si ksatria yang penipu ini sering menyakiti hati sang putri.
Sang putri ketakutan.
Sang putripun berusaha melarikan diri.
Si ksatria penipu mengetahuinya, ia tidak rela dan mengunci sang putri sendirian di menara yang tinggi.
Sang putripun terus menangis meratapi penderitaannya.
Setiap hari melalui jendelanya sang putri menangis sembari menyaksikan manusia-manusia yang lalu lalang.
Betapa bebasnya mereka...
Betapa merananya aku...
Suatu hari yang kelabu lewatlah seorang pemuda.
Pemuda itu setiap hari melewati menara sang putri untuk pulang kerumahnya setelah bekerja membajak ladang didesa sang putri.
Pemuda ini selalu bernyanyi.
Suaranya tidak merdu, tapi sangat menyenangkan hati sang putri yang teriris miris.
Setiap saat sang putri tak sabar menunggu saat-saat si pemuda lewat di bawah menaranya dan bernyanyi. Sehingga suatu saat sang putri sangat penasaran terhadap tampang si pemuda.
Ia ingin melihat dari dekat si pemuda.
Sang putri berusaha untuk melongok ke bawah.
Sang putri tak menyadari jendela menara yang licin karena berlumut.
Sang putri terpleset.
Jatuhlah ia dari menara yang tinggi.
Sekaratlah sang putri.
Ia tak sadarkan diri, tapi tidak sampai meninggalkan dunia.
Si pemuda yang saat kejadian mengetahui sang putri terjatuh
Membawa tubuhnya yang sekarat
Dengan petunjuk orang-orang didesa itu si pemuda beserta orang-orang didesa itu membawanya ke rumah orang tua sang putri
Suami sang putri tak perduli sedikitpun
Anehnya roh sang putri dapat berjalan-jalan.
Sang putri merasa bebas, namun ia ketakutan.
Ia takut rohnya tidak akan kembali.
Orang-orang terutama si pemuda tidak dapat melihat roh sang putri, karenanya sang putri merasa tersiksa, ia ingin si pemuda itu melihatnya, menyadari keberadaannya.
Saat rohnya berjalan-jalan tak disadari ia menuju ke suatu gua di luar desa.
Tampaklah olehnya si perempuan tua.
Perempuan itu berkata, " Hai roh halus apa yang kau lakukan disini?, bukankah tempatmu bukan disini?" Sang putri terkejut ternyata si perempuan tua itu dapat melihatnya.
" Wahai perempuan tua siapakah kau"? mengapa kau dapat melihatku? "
"Aku ini penyihir penyendiri, apa yang telah terjadi pada dirimu? mengapa kau nampak begitu sedih?"
"Aku adalah seorang putri yang telah terjatuh dari menara karena kecerobohanku, tubuhku sedang sekarat saat ini, dan nampaknya rohku keluar dari tubuhku, sebenarnya aku merasa bebas dari suamiku yang jahat. ,tapi dilain sisi aku merasa takut. Aku takut jika rohku tidak bisa kembali lagi, dan aku hanyalah menjadi seorang putri yang tidak terlihat."
"Oh begitu ya...", sahut si penyihir
"Hai bukankah kau penyihir? bisakah kau membawaku kembali ke tubuhku? "
"Oh putri nampaknya itu hal yang sulit bagi penyihir kurang pengalaman sepertiku..., uhmm....tapi bagaimana jika aku merubahmu menjadi terlihat...orang-orang setidaknya akan dapat menyadari keberadaanmu."
Sang putripun tergoda, ia teringat akan pemuda itu, ia ingin terlihat oleh pemuda itu.
"Baiklah, ubahlah aku..."
"Apakah kau yakin ? "
Sang putri mengangguk, " Cepatlah penyihir sebelum aku berubah pikiran! cepatlah ! cepatlah! "
"Baiklah jika itu keinginanmu putri..."
Lalu si penyihir berkomat kamit mengucapkan mantera yang terdengar sangat aneh.
Lalu tiba-tiba muncullah asap yang sangat mengaburkan pandangan, mengelilingi tubuh sang putri.
Tiba - tiba sang putri merasa dirinya sangat kecil, tetapi ia merasa kedua tangannya sangat lebar.
Ia berbulu...
Ia berparuh...
"Oh ya ampun !! , kau ubah menjadi apakah aku ini?! "
Sang penyihir pun terkejut.
"Maafkan aku, aku tak menduga akan merubahmu menjadi burung kenari! , maafkan aku nampaknya aku salah mengucapkan mantera!"
Sang penyihir melarikan diri, dengan melenyapkan dirinya.
Sang putri merasa putus asa
Ia merasa sangat sedih.
Dalam hatinya yang bergumul sang putri mencoba untuk menemukan pijakan .
Mencoba berpikir tenang.
"Tak apalah semoga mantera ini tak berlangsung lama, setidaknya si pemuda akan menyadari keberadaanku.."
Lalu terbanglah si burung putri.
Ditemuinyalah pemuda yang saat itu sedang berjalan.
Si burung putri terbang berusaha mengiringi si pemuda yang saat itu sedang bernyanyi.
Saat si pemuda mendendangkan lagu.
Si burung pun ikut bernyanyi mengiringinya.
Si burung putri mengikuti si pemuda pulang kerumahnya.
Si pemuda merasa aneh, tapi si pemuda tidak mengusirnya pergi.
Akhirnya karena kebiasaan setiap hari si burung putri menemani si pemuda kemanapun ia pergi.
"Hai burung mengapa engkau tidak terbang pergi?, mengapa kau selalu menemaniku? bukankah kau bebas pergi kemanapun ?"
Si burung ingin menjawab, tapi ia takut si pemuda akan takut kepadanya yang bisa berbicara dan pergi ketakutan meninggalkannya.
Akhirnya seiring berjalannya waktu si burung putri yang menyerupai burung kenari tinggal bersama si pemuda itu.
Si pemuda tidak kesepian lagi didalam kamarnya, karena ia selalu ditemani sang burung.
Terkadang ia berbicara terhadap si burung seakan-akan si burung adalah manusia.
Terkadang si pemuda membagikan pengalamannya hari itu terhadap si burung.
Mereka seringkali menyanyi bersama.
Semakin lama orang tua si pemuda merasa khawatir jika si pemuda sudah atau bisa saja dalam proses menuju kegilaan, karena selalu menghabiskan waktunya bersama si burung yang tidak jelas.
Ibunya menginginkan agar si pemuda membuang si burung, karena ibunya takut si burung akan mempengaruhi kejiwaan si pemuda.
Orang tua si pemuda juga ingin agar si pemuda segera mendapatkan seorang perempuan yang sepadan dan menikahinya.
Si pemuda sudah melewati umurnya untuk menikah.
Si pemuda seperti dihentakkan.,disadarkan.
Sebelum bertemu dengan si burung kenari jika orang tuanya menginginkan ia menikah pasti ia akan menurutinya, setelah ia bertemu dengan si burung ia merasa seperti bukan dirinya lagi, mungkin karena ia sering tidak merasa kesepian lagi, dan karenanya ia melupakan yang lain-lain.
Tapi memang si pemuda seperti telah tersadar betapa apa yang dilakukannya selama ini memang agak tidak biasa.
Menghabiskan waktu dengan si burung, yang bukan sesama manusianya
Dan melupakan kehidupan yang masih membentang luas dihadapannya.
Si pemudapun meminta saran dari Tuan tanah si pemilik ladang tempat ia bekerja.
Kata si tuan tanah, " Turutilah kata-kata orang tuamu, terlebih lagi perkataan ibumu, karena nasihat seorang ibu harus didengar, surga ditelapak kaki ibumu nak."
Si pemuda dengan berat hati pulang kerumahnya.
Ia merasa dirinya jungkir balik.
Ia merasa sudah saatnya hatinya yang melankolis dibalikkan kepikirannya yang selogis mungkin.
Ia berkata kepada si burung, " Hai burung maafkanlah aku, aku harus membuangmu , ibuku khawatir akan kewarasanku, ibuku khawatir jika aku bersamamu terus menerus aku akan menjadi gila, dan pada akhirnya tidak akan ada perempuan yang bersedia kunikahi."
Si burungpun merasa sangat sedih.
Untuk pertamakalinya si burung mengeluarkan suaranya. " Hai pemuda, tak bisakah kau menunggu sampai mantera terkutuk ini lepas dariku ?"
Si pemuda sangat terkejut, " Hai burung kau ternyata dapat berbicara?!"
" Iya memang aku dapat berbicara, sebenarnya aku adalah seorang puteri yang sedang sekarat, dan saat ini aku sedang di manterai, sehingga aku menjadi burung."
Sang putripun menceritakan segalanya kepada si pemuda.
"Wahai pemuda yang baik hati, maukah kau menungguku sampai mantera ini hilang?"
Si pemuda termenung, kata-kata si tuan tanah terngiang-ngiang di telinganya.
Si pemuda meminta dan membutuhkan waktu untuk sendiri dan mencoba mempertaruhkan buah pikiran logisnya.
Akhirnya setelah beberapa hari yang penuh penyiksaan batin
Dan juga mencoba mengingat ingat betapa cantiknya sang putri yang saat itu sekarat di pelukannya sebelum ia membawanya untuk dirawat dirumah sang putri
Dan betapa dari cerita sang putri ia akhirnya mengetahui bahwa sang putri terjatuh karena ingin melihatnya,
si pemudapun membuat keputusan.
"Baiklah aku akan memberimu waktu sebulan lagi, jika dalam jangka waktu itu kau tidak berubah juga, aku terpaksa membuangmu, dan menikah dengan perempuan lain"
Dalam hati si pemuda sebenarnya agak ragu-ragu, namun ia mencoba untuk berkeyakinan sedikit.
Si burungpun merasa gembira tapi juga khawatir, namun terbersit pertanyaan di benak si burung, " Wahai pemuda, aku tak pernah melihatmu dengan perempuan manapun, dengan siapakah kau akan menikah? " "Aku tak tahu burung, yang jelas mulai saat ini aku akan membuka diriku untuk wanita lain, aku tak akan berdiam diri seperti ini lagi, menghabiskan waktu luangku hanya denganmu saja.."
Si burung terkejut mendengarnya. Hatinya kembali sedih.
Tapi ia tak dapat melakukan apa-apa dengan keputusan yang telah dibuat oleh si pemuda, karena ia tidak merasa berhak mengatur perasaan si pemuda.
Terlebih lagi ia hanya nampak seperti seekor burung kenari.
Waktupun terus berjalan.
Dalam berjalannya waktu si burung merasa tertekan.
Si burung kehilangan semangatnya untuk bernyanyi mengiringi si pemuda.
Semakin lama si pemudapun merasa semakin bosan padanya.
Sementara itu si pemuda telah membuka hatinya untuk berkenalan dengan perempuan lain.
Si pemuda akhirnya bertemu dengan perempuan lain didesa itu.
Perempuan itu telah menarik hatinya.
Dibawanyalah perempuan itu ke rumah nya, untuk diperkenalkan dengan ibunya.
Ibunya sangat bahagia dan lega dengan perempuan pilihan si pemuda.
Si burung pun semakin tertekan, larut dalam kesedihan.
Si pemuda semakin hari melupakan si burung.
Semakin lama, waktu yang telah ditetapkan selama sebulanpun mendekati akhirnya.
Si pemudapun menikah dengan perempuan yang telah menarik hatinya.
Si burung sangat bersedih hati karenanya.
"Oh engkau tidak mau menungguku, engkau sudah tidak sabar dengan wanita pilhan hatimu, engkau telah melupakanku. Tak tahukah kau aku sangat mencintaimu..."
Dan si burung akhirnya pergi terbang dari rumah si pemuda.
Tak ada seorangpun memperdulikannya.
Saat si burung mulai mengepakkan sayapnya, ia terkejut, berangsur angsur tubuhnya berubah menjadi dirinya sendiri, sang puteri cantik, namun ia tidak dapat bergembira.
Ia ingin kembali lagi kepada si pemuda, namun nampaknya semuanya sudah terlambat.
Saat ia berubah, tiba- tiba si penyihir datang kepadanya, " Sekarang aku baru ingat ternyata mantera itu akan berakhir, saat kau benar-benar mengalami jatuh cinta"
"Tapi semuanya sudah terlambat hai penyihir, pemuda yang aku cintai telah menikah dengan perempuan lain,ia tidak sabar menungguku, tapi memang aku tidak bisa menyalahkanya, aku hanyalah seekor burung di matanya, ia telah mendapatkan seorang perempuan yang sepadan dengannya"
"Bukankah cinta adalah pengorbanan putri? bukankah cinta itu tak harus memiliki? bukankah cinta itu adalah pengalaman? cinta tidak harus berbahagia diakhir, tapi setidaknya kita sudah mengalami apa yang sebenarnya dinamakan cinta itu? "
"Hai penyihir mengapa kau bisa mengatakan seperti itu?, seperti kau ahli dalam cinta mencinta saja..", sahut sang putri skeptis
" Karena aku pernah mengalami apa yg kau alami putri...,oleh karenanya aku menyebut diriku penyihir penyendiri..."
" Kalau begitu aku juga mau menyendiri saja seumur hidupku.."
Sang Putripun berjalan pergi...