Saat sang pelukis yang menyebut dirinya aliran realis,telah melukis dedaunan bambu di siang yang mengharu biru dan perempuan yang tadi diperintahnya untuk duduk diam diatas bangku taman,mulai membuka mulutnya..
"Katanya kau pelukis realis
Tapi kau nyatanya pembohong
Kau lukis awan berarak bergugus putih itu dibalik dedaunan bambu
Yang kulihat awan itu selalu melayang ditiup angin
Sebentar ia berada dibalik dedaunan
Sebentar saat aku melongok kebawah
Ia berada dibawah kaki bangku taman ini
Kau pembohong..
Kau lukis dedaunan bambu itu tepat diatas tanah coklat berdebu
Bayangannya tepat menimpa sejumput rumput liar didekat batu hitam itu
Dedaunan itu bergoyang!
Ia tertiup angin!
Tak kau lihatkah debu disekelilingnya terbang mengotori kakiku?
Dan mengapa kau melukis wajahku dengan mata yang kering menerawang?
Aku tahu aku hanyalah objek
Tapi mataku telah basah..
Debu yang berterbangan dari kakiku menusuk kornea mataku ,menekan kelenjar air mataku
Tak kau lihatkah tetesan - tetesannya?
Mataku membasah...
Mengapa kau sebut dirimu pelukis realis?
Apakah tanda-tanda kehidupan yang bisa kau lukiskan?
Yang nyata itu tak kan benar-benar beku
Lukislah saja patung
Dan berhentilah menyebut dirimu pelukis realis!"
Perempuan itu lantas meninggalkannya pergi dalam kegemparan jiwa yang terguncang..