Setiap hari aku terbangun sekitar subuh
Aku tak memiliki jam weker
Aku tak memiliki seseorang untuk membangunkanku
Tetapi aku selalu tahu jika tiba waktuku
Memercikkan air wudhu di lima waktu yang pertama
Jika tiba saat-saat lima waktu shalat
Kuhamparkan sajadah yang terbuat dari karung goni diatas lantai tanahku
Kukenakan mukena kusam bekas pemberian cuma-cuma dari masjid dusunku dua puluh tahun lalu
Dan aku mulai membuka doaku dengan Allahuakbar, Allah Maha Besar
Allah selalu Maha Besar bagiku...
Aku tahu dimata manusia aku perempuan tua miskin kesepian
Aku tahu aku hanyalah seorang perempuan pembuat arang
Setiap hari kujual arangku dengan harga murah dari desa ke desa
Tapi Allah sungguh baik padaku
Selalu ada saja kayu dan ranting didalam hutan belakang gubukku yang dapat kuolah menjadi arang
Oh lihatlah kebun belakang rumahku, daun singkongnya hijau-hijau
Singkongnya gemuk-gemuk, meski tak pernah kupupuki
Dan setiap hujan badai, gubukku ini ajaibnya masih tetap bertahan
Terkadang ada saja kelinci liar yang tersesat
Kupanggang saja dia
Yakinku inilah tanda-tanda kebesaran Allah untukku
Aku tak pernah sampai pingsan kelaparan
Orang lain boleh mengira aku miskin dan kesepian
Orang lain boleh mengira Allah tak memberkahiku
Tetapi hanya aku dan Allah yang tahu
Dalam kesendirianku
Dalam kemiskinanku
Aku menemukan Allah disana
Bagiku kehidupan di dunia ini hanyalah sementara
Dunia ini adalah tempat dimana Allah menguji hatiku
Dan akupun terus berjuang tetap berjalan didalam keridhaan-Nya
Ada satu keinginanku
Bukan rumah mewah, bukan pakaian bagus
Aku hanya ingin menghembuskan napas terakhirku didalam mushola
Saat adzan dikumandangkan...
Dan kumulai bersujud..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar