Minggu, 24 Maret 2013

Memoar fiksi si perempuan pembuat arang : Saat Adzan Dikumandangkan

Setiap hari aku terbangun sekitar subuh

Aku tak memiliki jam weker

Aku tak memiliki seseorang untuk membangunkanku

Tetapi aku selalu tahu jika tiba waktuku
Memercikkan air wudhu di lima waktu yang pertama

Jika tiba saat-saat lima waktu shalat
Kuhamparkan sajadah yang terbuat dari karung goni diatas lantai tanahku

Kukenakan mukena kusam bekas pemberian cuma-cuma dari masjid dusunku dua puluh tahun lalu

Dan aku mulai membuka doaku dengan Allahuakbar, Allah Maha Besar

Allah selalu Maha Besar bagiku...

Aku tahu dimata manusia aku perempuan tua miskin kesepian

Aku tahu aku hanyalah seorang perempuan pembuat arang

Setiap hari kujual arangku dengan harga murah dari desa ke desa

Tapi Allah sungguh baik padaku

Selalu ada saja kayu dan ranting didalam hutan belakang gubukku yang dapat kuolah menjadi arang

Oh lihatlah kebun belakang rumahku, daun singkongnya hijau-hijau

Singkongnya gemuk-gemuk, meski tak pernah kupupuki

Dan setiap hujan badai, gubukku ini ajaibnya masih tetap bertahan

Terkadang ada saja kelinci liar yang tersesat
Kupanggang saja dia

Yakinku inilah tanda-tanda kebesaran Allah untukku

Aku tak pernah sampai pingsan kelaparan

Orang lain boleh mengira aku miskin dan kesepian

Orang lain boleh mengira Allah tak memberkahiku

Tetapi hanya aku dan Allah yang tahu

Dalam kesendirianku

Dalam kemiskinanku

Aku menemukan Allah disana

Bagiku kehidupan di dunia ini hanyalah sementara

Dunia ini adalah tempat dimana Allah menguji hatiku

Dan akupun terus berjuang tetap berjalan didalam keridhaan-Nya

Ada satu keinginanku

Bukan rumah mewah, bukan pakaian bagus

Aku hanya ingin menghembuskan napas terakhirku didalam mushola
Saat adzan dikumandangkan...
Dan kumulai bersujud..









Tidak ada komentar:

Posting Komentar