Minggu, 16 Desember 2012

Sehelai Daun


Duduk tercenung diatas bebatuan dingin
Kuambil sehelai daun jatuh di ubun-ubun
Kuamati sembari termenung bertafakur
Diatas telapak tanganku
Ku identifikasi serat-serat halusnya
Klorofil hijau menenangkan sukma
Getah lengket beraroma kehidupan
Hatiku tersentak menangis
Memprotes pemikiran eksistensi
Bagaimana ada manusia yang berdalih Tuhan tak eksis
Sehelai daun inilah barang bukti
Keluarkan barang canggihmu
Kau hanyalah manusia tinggi hati
Buatlah sehelai daun
Apakah kan sama persis?

Si Kakek Dan Muda Mudi

Kakek tua itu...

Keriput menggantung di wajah yang sedang cemberut

" Aku kesal menjadi tua. " , gerutunya
" Hidupku akhir-akhir ini sangat membosankan. ", tangisnya
" Ahh biarkan saja aku mati hari ini ! ", teriaknya
" Ahh maafkan aku istriku, aku sangat mencintaimu. ", sesalnya
" Aku ingin hiburan, bawa aku duduk diberanda. ", pintanya

Sore ini ia duduk dikursi goyang
Mengawasi manusia berjalan lalu lalang
Dilihatnya muda mudi mabuk kepayang
Hati kakek meriak menggelombang satu kenangan

Si kakek bak tersetrum tersentak
Menyelip ribuan spektrum cahaya di otak
Masa lalu terlihat sejelas mata membelalak
Emosi cinta sejatipun kembali meledak-meledak

Dan si kakek tersenyum kembali...

Kamis, 06 Desember 2012

Galau Galauan, Galau Siapa ?

Aku seorang ilmuwan
Aku bereksperimen sampai menemukan; aku bereksperimen lagi dan menemukan lagi, begitu saja.Aku berkutat di laboratorium; tak minat menghirup oksigen lebih di udara luar. Ku paksakan otakku berkonsentrasi pada eksperimenku, bukan pada yang lain.

Aku seorang seniman
Aku melukis. Yang tercipta hanyalah coretan, cipratan dalam warna- warna gelap. Ku melukis lagi, tak pernah ada lukisan realis aliranku; hanya cipratan - cipratan abstrak berwarna gelap ini lagi. Aku terduduk, ingin menangis.

Aku seorang penulis
Menorehkan tinta, tapi tak ada tulisan beralur. Semuanya berantakan, ku remas kertasku dan kubuang. Ahhh kosong, tapi ingin berteriak berteriak saja, tapi tak tahu apa yang ingin kuteriakkan. Kecemasanku mengoyak - ngoyak kreativitasku.

Aku seorang atlet pelari
Aku telah berlari satu lapangan. Aku tak mencatatkan waktuku. Tak perduli, ku berlari lagi. Berkeringat, kelelahan, tapi hatiku yang terbakar, bukan semangatku kali ini. Aku berlari dan berlari lagi. Air mata bercampur keringat. Mataku perih.

Aku seorang pekerja kaum kebanyakan
Aku bekerja seperti robot, tak berperasaan, tak ingin merasakan. Menampik kenyataan bahwa aku lelah, otakku, fisikku, tapi takkan kubiarkan perasaan itu berkelebat walau hanya sejenak. Kusibukkan diriku seperti orang sibuk.

Aku seorang ibu rumah tangga.
Aku memasak pagi ini, tapi masakanku tak enak, kurang garam. Aku ingin diam saja hari ini, ingin terlamun, aku lelah dengan hidup ini. Si kecil menangis, aku memarahinya. Si kecil ingin pipis, aku memarahinya. Si kecil ingin makan kue, aku membentaknya, menyuruhnya untuk membeli sendiri di toko depan. Si kecil belum lagi dua tahun.

Aku seorang bujangan pengangguran.
Aku pun galau, tak bisa menyibukkan diri. Aku galau tak bisa menghidupi diri. Aku galaupun dengan problematika hidupku yang lain. Ah dengan sok tahu nya; aku sok mengatakan nampaknya aku yang paling galau.


ps : ingin ikut merayakan trend kata galau, meskipun kata ini sudah ada dikamus bahasa Indonesia sejak dulu.Dan saya sudah menggunakannya sejak dulu ( dengan sombongnya! :p )

Demokrasi Dalam Bersedih

Maafkanlah aku...
Yang terlalu membuka lebar-lebar pintu kesedihanku
Memuakkan akan kegamblangannya
Membuat muntah tanpa harus mengorek tenggorokan
Meniupkan bau tengik di hati yang berbunga-bunga
Mencorat coret darah dan air mata ditembok kosong berpunya
Lalu kabur tanpa sejumput rasa takut
Tetapi mengapa ku harus meminta maaf ?
Kepada siapa ku harus meminta maaf ?
Apa sebab ku harus meminta maaf ?
Katakanlah aku berlebihan
Terlalu banyak gaya
Terlalu sentimentil melankolis
Aku hanya mempraktekkan demokrasi
Kebebasan tuk bersedih