Senin, 26 Maret 2012
Saat Sang Angin Bercerita
Berlari kilat tanpa berpijak
Hingga keujung duniapun kutempuh
Jejak-jejak tanpa tapak ku
Ada disetiap sudut-sudut bumi
Tak ada yang sebebas aku
Janganlah menaruh iri padaku
Bersekutu dengan kupu-kupu bersayap abstrak
Menerobos padang-padang ilalang
Tanpa beban,gravitasi nol
Kubelai duri-duri mawar
Bersenda gurau dengan kemurungan dedaunan kering
Mengusap kulit-kulitmu yang terbakar
Menenangkan jiwa gundah gulana
Tak satupun rahasia tak kudengar
Kadang membuatku menangis,tertawa
Kadang membuatku bergidik ngeri
Suara-suara hening ini saja kutiupkan
Menyerbak wangi aroma kehidupan
Bau busuk aroma kematian
Kuhembuskan kedalam relung-relung hati
Kau tak dapat melihatku
Tapi kau bisa merasakan saat ku ada
Saat kau menganggap Tuhan tak ada
Pikirkanlah keberadaanku...
Bayang-Bayang Berjalan
Bayang-Bayang Berjalan
Aku akan ada disana
Saat kau marah; sedih; putus asa
Sebutkan dengan galau
Aku akan ada disana
Niat-niat jahat
Tipu daya diotakmu
Mencoret-coret ilustrasi gelap dihatimu
Emosi-emosi bisu
Akulah itu
Saat malaikat terangmu kalah
Itu karena ku menang
Sejenius apapun dirimu
Sereligius apapun dirimu
Kau takkan bisa menghapusku
Secepat cahayapun kau berlari
Sejauh apapun kau pergi
Aku tetap tak terhilangkan
Aku datang dan pergi
Tanpa kau sadari
Kuharap...
Saat kau hidup
Kau tak kan berada dalam gelap gulita
Dimana kau hanya bisa melihatku
Tanpa dirimu disitu
Kuharap...
Saat kau mati
Kau kan berada dalam terang cahaya
Kau akan jelas melihat dirimu
Sendiri saja tanpa aku
Semoga aku hanya sekedar
Menjadi bayang-bayang berjalanmu...
PS : Setiap orang pasti memiliki bayang-bayang berjalannya, sisi gelap
Menengadah
Menengadah
Ditersempitku, aku selalu mencari langit
Diterbawahku, aku selalu mencari langit
Ditergelapku, aku selalu mencari langit
Aku yang selalu mencoba menengadah
Mencari sesosok langitku
Di ruang pandangku
Ketiadaan itu tak ada
Semustahil apapun
Aku akan berjuang untuk menengadah
Dan tersenyum
Sebelum langit-langit itu berjatuhan
Hidupku Dalam Sebuah Memoar
Hidupku Dalam Sebuah Memoar
Melukis suramnya takdir
Apalah aku hanyalah seorang pandir
Mulut-mulut ketus berlagak menyindir
Toh kesempurnaan tak kan pernah hadir
Mengenggam setetes air ditapak tangan
Ijinkan aku tuk sebentar berangan
Saat imaji dan ilusi beterbangan
Inilah aku terlupakan, bak seorang gelandangan
Karangkan hidupku dalam sebuah memoar
Agar ku bebas berkoar-koar
Mempongahkan diriku panjang kali lebar
Beromong kosong sedikit berdebar-debar
Ha ha ha ha aku tertawa pada dunia
Pada kalian
Sekutuku
Musuhku
Entahlah….
Minggu, 25 Maret 2012
Epilogue
Jalan berlikuku bercela dicelah-celah
Aku hanyalah organisme kecil ditangan Allah
Alam raya menyisakan sedikit peraduan untukku
Tuk membeku ditiup debu-debu
Berserah pasrah dikubangan fatalisme
Berhenti menari mengikuti ritme
Tersenyum mengayun diambang gerbang
Sebentar lagi sayap-sayap ini kan terbang
Menyerahkan kembali kefanaanku
Tak mengapa ku tak merana
Dialog-dialog tanpa kata bermakna cinta
Inilah epilogku yang terindah
Aku hanyalah organisme kecil ditangan Allah
Alam raya menyisakan sedikit peraduan untukku
Tuk membeku ditiup debu-debu
Berserah pasrah dikubangan fatalisme
Berhenti menari mengikuti ritme
Tersenyum mengayun diambang gerbang
Sebentar lagi sayap-sayap ini kan terbang
Menyerahkan kembali kefanaanku
Tak mengapa ku tak merana
Dialog-dialog tanpa kata bermakna cinta
Inilah epilogku yang terindah
Langganan:
Komentar (Atom)