PARADIGMA HUKUM DAN PERSPEKTIF SPIRITUALISME
Oleh : Absori
A. Pendahuluan
Garis depan ilmu senantiasa berubah (the changing of science). Ilmu berusaha mencari dan mengungkap kebenaran, tetapi pada waktu yang sama menyadari keterbatasannya. Ilmu tidak dapat berpretensi (telah) menemukan kebenaran absolut. Ilmu sennatiasa merupakan proses pencarian terhadap kebenaran. Berangkat dari uraian di atas, maka tidaklah mengherankan bahwa garis depan ilmu selalu berubah-ubah dan bergeser[1]. Kebernaran ilmiah tidaklah bersifat mutlak (absolut), berubah-ubah dan tidak abadi. Ia bersifat nisbi, sementara dan kira-kira[2]. Namun kebanyakan ilmuwan mengakui adanya kebenaran mutlak yang merupakan otoritas dari Al-khaliq. Kebenaran mutlak merupakan kebenaran tunggal yang sering disebut sebagai kebenaran hakiki yang substanstif dan esensial, yang tampil dalam bentuk keteraturan alam semesta dan obyektif universal.
Kebenaran hasil olah pikir manusia bersifat relatif, karena itu dimungkinkan manusia dapat mejangkau lebih luas lagi samudra kebenaran yang dibentangkan melalui kekuasaan Allah baik yang tersurat dalam Al-kitab dan ciptaan-Nya yang tergelar di alam semesta maupun yang melalui kreasi potensi manusia, berupa akal, budi dan indera. Dimungkinkan manusia akan mampu meraih kebenaran yang lebih tinggi dalam wujud kebenaran transendental yang vertikal.
Menurut Liek Wilardjo teori itu, dan dengan sendirinya juga konsep yang terkandung di dalamnya, akan diterima sebagai secara ilmiah benar dan baik dalam pengertian bahwa ia bermanfaat dalam menyingkapkan beberapa butiran-butiran kebenaran yang tersembunyi dalam perbendaharaan alam, walaupun hanya berarti penegasan-penegasan yang dapat diuji secara emfiris pada umumnya[3].
DALAM BAHASA THOMAS KHUN, ILMU DARI WAKTU KE WAKTU MEENGALAMI REVOLUSI DIMULAI DENGAN PERUBAHAN DALAM PARADIGMA YANG DIGUNAKAN. SALAH SATU PERISTIWA BESAR DALAM DUNIA ILMU PENGETAHUAN ADALAH BERAKHIRNYA ERA NEWTON MELALUI SUATU REVOLUSI DAN UNTUK WAKTU YANG LAMA DITERIMA SEBAGAI KEUNGGULAN ILMU PENGETAHUAAN YANG MAMPU MENGAKHIRI KETERBATASANNYA UNTUK MENJELASKAN DAN MEMPETAKAN ALAM. SEJAK FISIKA DAN PARADIGMA NEWTON YANG BARU ITU, MAKA SELURUH ALAM DIANGGAP TELAH DAPAT DILIHAT DALAM SUATU SUSUNAN YANG TERTIB. TETAPI ERA NEWTON BUKAN AKHIR SEGALANYA, ALAM MASIH MENYIMPAN KOMPLEKSITAS YANG TIDAK DAPAT DIJELASKAN ATAU DIJANGKAU OLEH TEORI NEWTON[4].
KINI GARIS DEPAN ILMU TELAH BERUBAH. ERA NEWTON DIGANTI TEORI RELATIVITAS EINSTEIN YANG LEBIH MAMPU MENGAMATI FENOMENA LAM YANG KOMPLEKS. MENURUT PHILLIP CLAYTON[5] ERA SAINS TELAH BERUBAH, YAKNI TELAH MENERIMA KETERBATASAN-KETERBATASAN DALAM PREDIKSI (MEKANIKA KUANTUM), AKSIOMATISASI, DETERMINISME, ATOMISME MAUPUN PEMAHAMAN BERDASAR HUKUM ATAS PERILAKU MANUSIA. TEORI EMERGENSI KINI MENYARANKAN BAHWA ALAM TERBUKA KE ATAS. HAKIKAT KESADARAN MANUSIA TERBUKA KE ATAS YANG MENERIMA GETARAN-GETARAN KEABADIAN TRANSCENDENTAL, MEMBERI MODEL YANG SANGAT KUAT BAGI INTEGRASI ANTARA JIWA DAN ROH. SEBUAH GAMBARAN YANG PERSIS SAMA DENGAN APA YANG DIAJARKAN OLEH AGAMA, BAIK YAHUDI, KRISTEN MAUPUN ISLAM.
DI SINI TAMPAK MENUNJUKAN BAHWA ILMU PADA HAKIKATNYA SATU (THE UNITY OF KNOWLEDGE) YANG DIKONSEPKAN DALAM ISTI;AH "CONSILIENCE". PERGANTIAN PARADIGMA DALAM ILMU FISIKA DAARI MEKANIK KE TEORI KUANTUM YANG LEBIH KOMPLEK, MEMBERI PELAJARAN SANGAT BERHARGA KEPAADA STUDI HUKUM TAU ILMU HOKUM. MEEMAHAMI HOKUM TIDAK CUKUP HANYA MENGGUNAKAN PENDEKATAN POSITIVIS-ANALITIS, DILIHAT SECARA LINIER DAN MEKANIK. DENGAN PERLENGKAPAN PERATURAN DAN LOGIKA, KEBENARAN TENTANG KOMPLEKSITAS HUKUM TIDAK DAPAT MUNCUL. HUKUM TELAH DIREDUKSI MENJADI INSSTITUSI NORMATIVE YANG SANGAT SEDERHANA. KEBENAARAN ANTHROPOLOGI, SOSIOLOGI, EKONOMI, PSIKOLOGIS, MANAGERIAL DAN LAIN-LAIN TIDAK (BOLEH) DITAMPILKAN. BATAS ANTARA ODER DAN DISORDE DILIHAT SEARA HITAM PUTIH[6].
DALAM KESIMPULAN TULISANNYA PHILIP CALYTON MENGATAKAN BAHWA KINI KITA MULAI MELIHAT SUATU RENAISANS, KEBANGKITAN KEMBALI METAFISIKA (TRANSENDENTAL), DARI REPLEKSI SISTEMATIK MENGENAI HAKIKAT DAN KREATIVITAS TUHAN. POSITIVIS BOLEH SAJA MENGUMAMKAN BAHWA METEFISIKA (TRANSCENDENTAL) SUDAH MATI, AKAN TETAPI, RASANYA KINI JUSTRU POSITIVISME LOGISLAH YANG DULUAN MATI. SANGAT MENARIK PERHATIAN BAHWA ARA PEMIKIR TEISME DARI MUSLIM, YAHUDI DAN KRISTEN KINI KEMBALI TERLIBAT DLAM EKSPLORASI YANG SANGAT LUAS TERHADAP GAGASAN "HIPOTESA TUHAN"[7].
Tulisan ini akan mencoba menggambarkan paradigma hukum dan persspektif spiritual. Paradigma hukum di sini dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana paradigma yang terdapat dalam hukum atau ilmu hukum yang dideteksi dengan pendekatan perspektif historis, terutama pada era positivisme yang melahirkan hukum modern pada masyarakat liberal. Pada saat semacam itu nilai-nilai spiritual yang meliputi:agama, etika dan moral tidak mendapat tempat sehingga hukum modern mengalami krisis spiritual. Kondisi semacam itu yang kemudian melahirkan pemikiran kritis yang post pisitivis yang berupaya untuk melepaskan diri dan menggugat pemikiran positivis. Pemikiran semacam itu berangkat pada pemahaman hukum yang tidak hanya bersifat formal, yang mementingkan peraturan dan prosedur, tetapi lebih menekankan fakta emfieik daari realitas alam dan perilaku sosial yang tidak lepas pada nilai-nilai yang substanstif dan transcendental.
B. Paradigma Hukum
Istilah paradigma dikenalkan oleh Thomas Khun, dipahami sebagai suatu konsep tentang hal-hal yang besar dan mendasar. Pengertian paradigma dicoba dirumuskan Masterman dan Freiderichs. Mereka berpendapat bahwa paradigma merupakan pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang mestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (dicipta). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang mesti harus dijawab, bagaimana seharusnya menjawab, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut.[8]
Menurut Satjipto Rahardjo, sebelum itu Robert Merton (1984) telah menggunakannya untuk membicarakan temuan-temuan (materials) yang dikodifikasikan, melalui teknik untuk menggelar the complete of assumptions, consepts and basic propositions employed in a social logical. Merton melihat bahwa tujuan penciptaan paradigma adalah untuk memberikan a provisional guide for eduquate and fruitful functional analysis.[9]
Paradigma dipakai sebagai sinonim dari model. Keduanya berhubungan dengan teknik analisis dan interpretasi data. Berhadapan dengan sejumlah data, seorang ilmuwan (peneliti) dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana memahaminya. Analisis berarti membuat kategorisasi, menata, memanipulasi dan mengikhtisarkan. Semua itu dalam rangka mereduksi data sehingga memperoleh bentuk yang dapat dipahami (intelligible) dan diinterpretasikan. Paradigma dan model membantu untuk memahami data. Hal ini dilakukan dengan mengemukakan asumsi dan postulat yang ada dibedakan, sebagai sarana untuk melakukan kategorisasi, pengiktisaran, dan sebagainya. Lebih dari itu juga dapat dicari implikasi politik dan ideology, sehingga sang ilmuwan mampu keluar dari implikasi data yang sempit.[10]
Begitu besar gema pemikiran paradigma dari Khun sehingga hampir seluruh cabang keilmuwan menyampaikan respon melalui berbagai versi yang dianggap mewakili nuansa pemikiran yang salama ini berkembang dalam disiplin ilmu masing-masing. Para ilmuwan melihat seberapa jauh pengaruh, implikasi, dan konsepsi pemikiran Khun dalam bidang sejarah, ekonomi politik, sosiologi, filsafat, hukum, budaya, dan agama.
Paradigma dalam hukum hukum, menurut Sutjipto Raharjo adalah konsep spiritual yang ada di dalam hukum yang lebih besar serta melampaui hukum positif. Konsep spiritual mengikuti pemikiran Paul Scolten yang memahami dengan unsur moral dalam hukum yang kehadirannya dirasakan secara langsung begitu saja. Oleh Scolten dimasukkan ke dalam kategori irrasional yang secara teknis disebut asas hokum melalui rechts vending. Pendapatnya yang amat terkenal adalah hukum itu ada dalam perundang-undangan tetapi masih harus ditemukan. Di situlah Scotlen mengemukakan teorinya tentang penemuan hukum yang didasari oleh pemahaman mengenai tata hukum sebagai suatu sistem yang terbuka. Dalam keyakinannya, Scolten mengatakan bahwa pada suatu saat asass hukum itu sulit untuk ditarik dari perundang-undangan, tetapi tetap diyakini bahwa asas itu ada yang ruang linkupnya tidak hanya meliputi suatu bidang hukum tertentu, melainkan seluruh hukum. Teori Scolten merupakan pemikiran yang menarik untuk dikaitkan dengan masalah paradigma.[11]
C. Positivis dalam berbagai Perkembangan
Sebelum membicarakan berbagai perkembangan yang berkaitan dengan paradigma positivis, maka perlu dikemukakan terlebih dulu beberapa hal yang berkaitan dengan hukum alam (nature) yang keberadaannya dianggap amat penting sebagai pijakan dalam pengembangan filsafat positivis.
Hukum alam sesungguhnya merupakan suatu konsep yang mencakup banyak teori. Berbagai anggapan dan pendapat yang dikelompokkan dalam hukum alam ini bermunculan. Istilah hukum alam dituangkan dalam berbagai arti oleh berbagai kalangan pada masa yang berbeda. macam-macam anggapan tersebut di antaranya, pertama merupakan ideal yang menuntun perkembangan hukum dan pelaksanaannya; kedua suatu dasar dalam hukum yang bersifat moral yang menjaga jangan sampai terjadi suatu pemisahan secara total antara yang ada sekarang dan yang seharusnya; ketiga suatu metode untuk menuntun hukum yang sempurna; keempat isi dari hukum yang sempurna yang dapat didiskusikan secara akal, dan kelima suatu kondisi yang harus ada bagi kehadiran hukum.[12]
Dalam perkembangannya, bidang hukum menunjukkan perubahan yang paradigmatic. Hukum tidak lagi dibangun, dan dijabarkan sesuai dengan tatanan nilai yang bersifat teoritris (spiritual) atau berasal dari hukum alam, tetapi telah bergeser pada pandangan yang melihat peran manusia begitu dominan dalam merumuskan ketentuan aturan hukum. Tokoh pendekatan ini di antaranya Hugo de Graat atau Grotius yang memunculkan pemahaman hukum alam bersifat sekuler. Menurut paham ini, hukum berasal dari alam dan keberadaannya tidak bergantung dari Tuhan. Adanya hukum alam tidak bergantung pada eksistensi Tuhan. Hukum alam akan tetap ada terlepas ada tidaknya Tuhan. Hukum yang berlaku di suatu masyarakat merupakan bagian dari hukum alam. Karena itu, hukum alam oleh para pendukungnya dianggap berjasa dalam meletakkan landasan ideal nilai-nilai atau norma universal, seperti hak asasi manusia (HAM), persamaan derajat manusia, perlakuan yang sama dihadapkan hukum, dan lain-lain.
Kelemahan hukum alam adalah karena ide atau konsep tentang apa yang disebut hukum bersifat abstrak. Hal ini akan menimbulkan perubahan orientasi berpikir dengan tidak lagi menekankan pada nilai-nilai yang ideal dan abstrak, melainkan lebih mempertimbangkan persoalan yang nyata dalam pergaulan masyarakat. Latar belakang ini yang pada akhirnya melahirkan aliran hukum positif.[13]
Aliran hukum positif berangkat dari pandangan bahwa hukum tidak berasal dari Tuhan atau alam, melainkan dari manusia sendiri berdasarkan kemampuannya untuk merumuskan ketentuan hukum yang sumbernya dapat saja digali dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Hukum lahir untuk mengikat masyarakat karena adanya perjanjian sosial (social contract), manusia sendirilah yang memang menghendaki. Aliran hukum positif memandang perlu untuk memisahkan secara tegas antara hukum dan moral. Dalam kacamata positivis, tiada hukum kecuali perintah penguasa, bahkan aliran positivitas legalisme menganggap bahwa hukum identik dengan undang-undang.
Pengaruh positivis modern telah memasuki segala sektor keilmuan. Ditandai dengan kebangkitan semangat Eropa, melalui Renaisance, sebagai abad pencerahan yang diyakini akan mampu membawa harapan melalui ilmu pengetahuan pada orde peradaban yang dapat memecahkan segala persoalan hidup manusia. Besamaan dengan ini itu teknologi (spiritualisme) menjadi semakin memudar karena keberadaannya dianggap sudah tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan hidup yang nyata. Implikasi semangat positivis telah membawa pembaharuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan sosial, politik, ekonomi, hukum dan bidang-bidang lain.
Di bidang hukum sejak lebih kurang 200 tahun, negara-negara di dunia menggunakan konsep hukum modern. Praktis, hukum menghadapi pertanyaan yang spesialistik, teknologis, bukan pertanyaan moral. Keadaan yang demikian itu sangat kuat nampak pada hukum sebagai profesi. Kaum professional adalah orang-orang yang ahli dalam perkara perundang-undangan, tetapi jangan ditanyakan kepada mereka tentang urusan moral atau moralitas. Ekses hukum di Amerika yang sudah menjadi bisnis mengundang orang untuk berkomentar bahwa sifat kesatrian, professional oblesse, menolong orang yang susah sudah semakin luntur. Tipe bantuan hukum yang demikian itu disebut sebagai penembak bayaran.[14]
Sebagai reaksi dari modernisme, muncul pemikiran yang dikenal post positivis modern yang kehadirannya merupakan gugatan terhadap kehidupan masyarakat barat yang bercorak modern yang melihat realitas sebagai keutuhan yang tertata dan bersifat rasional. Dengan ilmu pengetahuan yang objektif, kemajuan peradaban manusia akan dicapai sesuai dengan garis linier. Pemikiran post modernisme juga mengandung kecenderungan-kecenderungan yang ditemukan di bidang hukum, seperti upaya untuk mempertanyakan kembali tentang konsepsi kebenaran, keadilan, demokrasi, relativisme, dan pluralisme dalam Hak Asasi Manusia (HAM).
Hukum positif muncul bersamaan dengan berkembangnya tradisi keilmuan yang mampu membuka cakrawala baru dalam sejarah umat manusia yang semula terselubung cara-cara pemahaman tradisional. Hukum positif mengajarkan bahwa hukum positiflah yang mengatur dan berlaku dibangun di atas norma yuridis yang telah ditetapkan oleh otoritas negara yang didalamnya terdapat kecenderungan untuk memisahkan antara kebijaksanaan dengan etika dan mengindentikkan antara keadilan dengan legalitas yang didasarkan norma yuridis yang telah ditetapkan oleh otoritas negara yang didalam terdapat kecenderungan untuk memisahkan antara kebijaksanaan dengan etika dan mengindentikkan antara keadilan dengan legalitas yang didasarkan atas aturan-aturan yang ditetapkan oleh penguasa negara. John Austin menggambarkan hukum sebagai suatu aturan yang ditentukan untuk membimbing makhluk berakal oleh makhluk berakal yang telah memiliki kekuatan untuk mengalahkannya. Oleh karena itu, hukum harus dipisahkan dari keadilan dan sebagai gantinya kebenaran hukum harus disandarkanpda ide-ide baik dan buruk yang didasarkanpada ketetapan pada kekuasan yang tertinggi.[15]
Positivisme adalah aliran yang mulai menemui bentuknya dengan jelas melalui karya Agust Comte (1798-1857) dengan judul Course de Philoshopie Positive. Positivisme hanya mengikui fakta-fakta positif dan fenomena-fenomena yang bisa diobservasi dengan hubungan obyektif fakta-fakta ini dan hukum-hukum yang menentukannya, meninggalkan semua penyelidika menjadi sebab-sebab atau asal-usul tertinggi. Agus Comte membagi evolusi menjadi tiga tahap, pertama, tahap teologis dimana semua fenomena dijelaskan dengan menunjukkan kepada sebab-sebab supernatural dan intervensi yang bersifat ilahi; kedua tahap metafisika. Pada tahap ini, pemikiran diarahkan menuju prinsi-prinsip dan ide-ide tertinggi yang dipahami sebagai ada di bawah permukaan sesuati, dan ketiga, tahap positif yang menolak semua konstruksi hipotesis dalam filsafat dan membatasi diri pada observasi empirik dan hubungan fakta-fakta di bawah bimbingan metode-metode yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu alam.[16]
Garis besar ajaran positivisme berisi sebagai berikut: pertama, hanya ilmu yang bebas nilai yang dapat memberikan pengetahuan yang sah; kedua, hanya fakta (ikhwal/peristiwa empiris) yang dapat menjadi obyek ilmu; ketiga, metode filsafat tidak berbeda dengan metode filsafat tidak berbeda dengan metode ilmu; keempat, tugas filsafat adalah menemukan asas-asas umum yang berlaku bagi semua ilmu dan menggunakan asas-asas tersebut sebagai pedoman bagi perilaku manusia dan menjadikan landasan bagi semua organisasi sosial; kelima, semua interpretasi tentang dunia harus didasarkan hanya pada pengalaman (empiris verifikatif), keenam, mengacu pada ilmu-ilmu alam, dan ketujuh berupaya memperoleh suatu pandangan tunggal tentang dunia fenomena, baik dunia fisik maupun dunia manusia melalui aplikasi metode-metode dan perluasan jangkauan hasil-hasil ilmu alam.[17]
Positivisme oleh Hart diartikan sebagai berikut: pertama, hukum adalah perintah, kedua, analisis terhadap konsep-konsep hukum adalah suatu yang berharga untuk dilakukan; ketiga, keputusan-keputusan dapat didedukasikan secara logis dari peraturan-peraturan yang sudah ada terlebih dahulu tanpa menunjukkan kepada tujuan-tujuan sosial, kebijakan serta moralitas; keempat, penghukuman secar moral tidak dapat ditegakkan dan dipertahankan oleh penalaran rasional, pembuktian atau pengujian, dan kelima, hukum sebagaimana diundangkan, ditetapkan harus senantiasa dipisahkan dari hukum yang seharusnya diciptakanyang diinginkan. Inilah yang sekarang sering diterima sebagai pemberian arti terhadap positivisme.[18]
Positivisme merupakan suatu paham yang menuntut agar setiap metodologi yang dipikirkan untuk menemukan kebenaran hendaklah memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang eksis dan objektif yang harus dilepaskan dari sembarang macam prokonsepsi metafisis yang subjektif sifatnya. Pada saat diaplikasikan ke dalam pemikiran hukum, positivisme menghendaki dilepaskannya pemikiran yuridis mengenai hukum sebagaimana dianut olehpara eksponen aliran hukum kodrat. Oleh sebab itu, setiap norma hukum haruslah eksis dalam alamnya yang objektif sebagai norma-norma yang positif ditegaskan sebagi wujud kesepakatan kontraktual yang kongkrit antara warga masyarakat. Hukum bukan lagi mesti dikonsepkan sebagai asas-asas moral metayuridis yang abstrak tentang hakikat keadilan, melainkan sesuatu yang telah menjalani positivisasi sebagai legee atau lex guna menjamin kepastian mengenai apa pula yang sekalipun normatif harus dinyatakan sebagai hal-hal yang bukan terbilang hukum.[19]
Dalam negara modern, hukum positif dibuat oleh penguasa yang berdaulat. Penguasa digambarkan sebagai manusia superior yang bersifat menentukan. Penguasa ini mungkin seorang individu, sebuah lembaga, atau sekelompok individu. Menurut John Austin, karakteristik hukum positif terletak pada karakteristik imperatifnya. Artinya, hukum dipahami sebagai suatu perintah dari penguasa. Pemikiran semacam itu kemudian dikembangkan Rudolf van Hearinga dan George Jellinek yang menekankan pandangan pada orientasi untuk mengubah teori-teori negara berdaulat sebagai gudang dan sumber kekuasaan hukum.[20]
Paham positivisme mempengaruhi kehidupan bernegara untuk mengupapayakan positivisasi norma-norma keadilan agar segera menjadi norma perundang-undangan untuk mempercepat terwujudnya negara bangsa yang diidealkan. Paham ini mempunyai struktur yang terintegrasi kukuh secara sentral dan berotoritas sentral yang tidak bisa dijabarkan, positivisasi hukum selalu memperoleh prioritas utama dalam setiap upaya pembangunan hukum di negara-negara yang tumbuh modern dan menghendaki kesatuan dan atau menyatukan. Tidak Cuma yang menuju ke nation state, melainkan juga yang dulu menuju ke colonial state. Tak ayal pula, positivisasi hukum selalu berhakikat sebagai proses nasionalisasi dan etaisasi hukum menuju kemampuan negara dan pemerintah untuk monopoli kontrol sosial yang formal lewat pendayagunaan hukum positif.[21]
Hukum adalah perintah penguasaan negara. Hakikat hukum menurut John Austin terletak pada unsur perintah. Hukum dipandang sebagai suatu sistem yang tetap, logis, dan tertutup. Karena itu, pihak penguasalah yang menentukan apa yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Kekuasaan dari penguasa dapat memberlakukan hukum dengan cara menakuti dn mengarahkan tingkah laku orang lain ke arah yang diinginkan.
John Austin, pada mulanya, membedakan hukum dalam dua jenis, yaitu hukum dari Tuhan untuk manusia dan hukum yang dibuat oleh manusia dapat dibedakan dengan hukum yang sebenarnya dan hukum yang tidak sebenarnya. Hukum yang sebenarnya inilah yang disebut sebagai hukum positif yang meliputi hukum yang dibuat oleh penguasa dan hukum yang disusun oleh manusia secara individual untuk melaksanakan hak-hak yang diberikan kepadanya. Hukum yang tidak sebenarnya adalah hukum yang tidak dibuat oleh penguasa sehingga tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Hukum yang sebenarnya memiliki empat unsur yaitu perintah (Command), sangsi (sanction), kewajiban (duty), dan kedaulatan (soveignty).[22]
Sementara menurut Hans Kelsen, hukum harus dibersihkan dari anasir-anasir non yuridis seperti unsur sosiologis, politis, historis, bahkan nilai-nilai etis. Pemikiran inilah yang dikenal dengan teori hukum murni (reine rechlehre). Jadi hukum adalah suatu kategori keharusan (sollens kategorie) bukan kategori factual (sains kategorie). Hukum baginya merupakan suatu keharusan yang mengatur tingkah laku manusia sebagai makhluk rasional.
Teori hukum murni boleh dilihat bagai suatu pembangunan yang amat seksama dari aliran positivisme. Ia menolak ajaran yang bersifat ideologis dan hanya menerima hukum sebagaimana adanya, yaitu dalam bentuk peraturan-peraturan yang ada. Teori hukum ini adalah teori tentang hukum positif. Ia berusaha untuk mempersoalkan dan menjawab pertanyaan apakah hukumnya dan bukan bagaimana hukum yang seharusnya. Karena itu, menurut Kelson keadilan sebagaimana lazimnya dipertanyakan hendaknya dikeluarkan dari ilmu hukum. Ia adalah suatu konsep. Ideologis, suatu ideal yang irasional. Pendapat yang mengemukakan bahwa keadilan itu ada, ternyata tidak dapat memberikan batasan yang jelas sehingga menimbulkan keadaan yang kontradiktif. Bagaimanapun keadilan itu tidak dapat dilepaskan dari kehendak dan tindakan manusia. Ia tidak bisa menjadi subjek ilmu pengetahuan. Apabila dipandang dari sudut pengetahuan rasional, yang ada hanya kepentingan-kepentingan. Oleh karena itu, hanya ada konflik kepentingan-kepentingan.[23]
Dasar-dasar pokok pikiran teori Hans Kelsen adalah sebagai berikut: pertama, tujuan teori tentang hukum, seperti juga setiap ilmu adalah untuk mengurangi kekalutan dan meningkatkan kesatuan (unity); kedua, teori hukum adalah ilmu, bukan kehendak, keinginan. Ia adalah pengetahuan tentang hukum yang ada bukan tentang hukum yang seharusnya ada; ketiga, ilmu hukum adalah normatif bukan ilmu alam, keempat, sebagai suatu teori tentang hukum adalah formal, suatu teori tentang cara pengaturan dari sisi yang berubah-ubah menurut jalan atau cara yang spesifik, dan keenam, hubungan antara teori hukum dengan suatu sistem hukum positif tertentu adalah seperti antara hukum yang mungkin dan hukum yang ada.[24]
Hans Kelsen juga dikenal sebagai pencetus teori berjenjang, (stuffen theory) teori ini melihat hukum sebagai suatu sistem yang terdiri dari susunan norma berbentuk piramida. Norma yang lebih rendah memperoleh kekuatan dari suatu norma yang lebih tinggi. Semakin tinggi suatu norma akan semakin abstrak sifatnya dan sebaliknya semakin rendah kedudukannya akan semakin kongkrit. Norma yang paling tinggi menduduki puncak piramida yang disebut norma dasar (grund norm). teori berjenjang ini kemudian dikembangkan oleh Hans Nawasky. Namun, lebih mengkhususkan pada pembahasan norma hukum saja. Sebagai penganut dari aliran positif, hukum dipahami identik dengan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh penguasa.[25]
D. Post Positivis dan Dekonstruksi
Dalam perkembangannya, muncul aliran yang merupakan reaksi dari dominasi pemikiran rasionalisme yang dianggap mempunyai banyak kelemahan yang didasarkan pada pemikiran yang hanya terpaku pada nilai-nilai atau asumsi-asumsi yang bersifat khayal. Karena itu, akhirnya melahirkan aliran sejarah (historis) yang menginginkan suatu teori harus didasarkan pada kenyataan-kenyataan atau fakta. Tokoh dari aliran sejarah ini diantaranya adalah Von Savigny yang menolak untuk mengagung-agungkan akal seseorang. Hukum, baginya tidak dibuat tapi tumbuh dan ditemukan dalam masyarakat.
Menurut Von Savigny, hukum timbul bukan karena perintah penguasa atau kebinasaan, tetapi karena perasaan keadilan yang terletak di dalam jiwa bangsa itu. Jiwa bangsa itulah yang menjadi sumber hukum. Karena itu, Savigny mengeluarkan pendapatnya yang amat terkenal bahwa hukum itu tidak dibuat tetapi tumbuh bersama masyarakat. Pendapat Savigny amat bertolak belakang dengan pandangan positivisme, sebab mereka berpendapat bahwa dalam membangun hukum maka studi terhadap sejarah atau bangsa mutlak diperlukan. Pendapat tersebut oleh Puchta dibenarkan dan dikembangkan dengan mengajarkan bahwa hukum suatu bangsa serikat pada jiwa bangsa yang bersangkutan.
Teori hukum lain yang lahir dari proses dialetika antara tesis positivisme hukum dan antitesis aliran sejarah, yaitu sociological juris-prudence yang berpendapat bahwa hukum yang baik haruslah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Teori ini memisahkan secara tegas antara hukum positif dengan hukum yang hidup. Tokoh aliran ini terkenal di antaranya adalah Eugen Ehrlich yang berpendapat bahaw hukum positif baru akan berlaku secara efektif apabila berisikan atau selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat (Lili Rasyidi, 1988: 55). Tokoh lain yaitu Roscoe Pound yang mengeluarkan teori hukum adalah alat untuk merekayasa sisial (law as a tool of social engineering). Pound juga mengajurkan supaya ilmu social didayagunakan untuk kemajuan dan pengembangan ilmu huikum[26].
Penggunaan paradigma rekayasa social menekankan pada efektivitas hukujm, yang umumnya diabaikan pada studi hokum tradisional yang lebih menekankan pada struktur dan konsistensi rasional dari system hokum. Dengan memperhatian perihal efektivitas hukum, maka perhatian studi hokum menjadi melebar dan melampaui kajian tradisional yang hanya menekankan pada masalah legalitas dan legitimasi saja. Memebicarakan efektivitas hukum hanya dapat dilakukan dengan pendekataan sosiologis, yaitu mengamati interaksi antara hokum dengan lingkungan sosialnya. Hukum tidak dilihaat sebgaai institusi yang stiril, melainkan senantiasa diuji kehadirannya dan karya-karyanya dari hasil dan akibat yang ditimbulkannya dalam kehidupan masyarakat luas[27].
Bersamaan dengan itu, berkembang juga aliran realisme hukum. Menurut aliran ini, hukum itu adalah hasil dari kekuatan-kekuatan sosial dan alat kontrol sosial. Ciri-ciri ajaran realisme sebagaimana dikemukakan oleh Karl. N. Liewellyn adalah sebagai berikut: pertama, tidak ada mahzab realis. Realisme adalah gerakan dari pemikiran dan kerja tentang hukum, kedua, realisme adalah konsep hukum yang harus diuji tujuan dan akibat-akibatnya. Realisme mengandung konsepsi tentang masyarakat yang berubah lebih cepat dari pada hukum; ketiga, realisme menganggap adanya pemisahan sementara antara hukum yang ada dan hukum yang seharusnya untuk tujuan-tujuan studi: keempat, realisme tidak percaya pada ketentuan dan konsepsi hukum sepanjang menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh pengadilan dan orang, dan kelima realisme menekankan evolusi tiap bagian dari hukum dengan mengingatkan akibatnya.[28]
Post positivis dapat dipahami sebagai mode pemikiran atau dapat juga merupakan tahapan dalam lintasan sejarah. post positivis secara umum dapat dikatakan sebagai gugatan terhadap positivis yang bercirikan rasionalistik, teknosentrik, dan universal yang telah mencapai status hegemonis di dunia. Kalau positivis melahirkan modernisme, maka post positivisme akan melahirkan pikiran post modernisme.
Era post positivisme sering dipahami sebagai gejala berkembangnya pemikiran yang memberontak pada tatanan positivisme dengan indikasi bersifat anti rasionalisme. Dengan demikian, berarti telah peluang dan tempat berkembangnya pemikiran non rasional. Inilah yang oleh Jacques Derrindra disebut sebagai dekontruksi, yakni pembongkaran cara berpikir yang logis dan rasional. Dekonstruksi membongkar unsur-unsur kekuasaan yang muncul dalam kesadaran. Dekontruksi dilakukan terhadap pemikiran-pemikiran yang dianggap dominan dan benar, karena yang dianggap benar selama ini, ternyata tidak membahagiakan manusia.
Dekontruksi telah membongkar positivisme yang selama ini dalam bidang hukum dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat modern. konsepsi kebenaran hukum merupakan nilai yang teramat penting menunjukkan kencenderungan yang relatif dan kabur. Nilai kebenaran dipahami dengan menggunakan pandangan yang berbeda dan mengarah pada suatu pemahaman bahaw kebenaran itu ukurannya menurut persepsi pembuat hukum. Pembuat hukum didasarkan atas kemauan pihak penguasa yang ditopang kelompok politik mayoritas denga dituangkan dalam bentuk undang-undang. Padahal, kehendak dan pandangan politik kelompok mayoritas belum tentu mencerminkan kebenaran.
Dalam bidang hukum publik, khususnya hukum ketatanegaraan, demokrasi dengan sistem perwakilan (representasi) dianggap sebagai sistem yang terbaik dalam negara modern. namun dalam perkembangannya sudah mulai dipertanyakan. Mereka menganggap bahwa representasi amat penting bagi modernisasi, organisasi, struktur politik dan filsafat yang mendasarinya. Akan tetapi, representasi adalah asing dan berlawanan dengan apa yang dipandang bernilai menurut pola post modernisme.
Dalam alam positivisme, perspektif spiritual dengan segala aspeknya seperti keagamaan, etika, dan moralitas diletakkan sebagai bagian yang terpisah dari satu kesatuan pembangunan peradaban modern. Karena itu, hukum modern dalam perkembangannya telah hilang unsur yang esensial yang berupa nilai transedental. Hal ini terjadi sebagai akibat cara berpikir yang didasari dari pandangan keduniaan yang diurus oleh kaisar dan keagamaan yang diserahkan pada tokoh agama (pendeta, rahib dan ulama). Cara berpikir seperti itu muncul bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Romawi dan berdirinya negara-negara bangsa di Eropa melalui perjanjian West Phalia tahun 1648 M yang dianggap sebagai awal kebangkitan Eropa, yang memunculkan etika protestan sebagai kekuatan yang mempengaruhi kapitalis Barat.
E. Dialog Nilai dan Spirituaalisme
Corak spiritual dalam alam post positivisme dapat dilihat pada jangkauan yang lebih luas yang berupa agama, etika, dan moralitas. Agama, etika dan moralitas tidak lagi dipahami dalam satu aspek saja, yaitu aspek yang terkait dengan persoalan teologi dan keinginan semata yang dapat dilihat melalui doktrin-doktrin dan peribadatan, tapi lebih dari itu persoalan nilai-nilai tersebut dapat didialogkan dengan persoalan pengembangan keilmuan, sosial, budaya, ekonomi, dan hukum. Sebab krisis masyarakat barat yang dianggap sebagai kegagalan peradaban modern karena pemikiran modern telah memisahkan spiritualisme dengan segala aspeknya dalam satu kesatuan pembangunan peradaban yang dibangun.
Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "Spiritual Intellegence, The Ultimate Intellegence", mengkritisi kegagalan peradaban barat dengan mengenalkan berpikir spiritual (spiritual tinking) dengan menggunakan pendekatan kecerdasan spiritual (spiritual quition), yang akan diperoleh kecerdasan yang paling sempurna (ultime intelegen), dilakukan dengan cara menerabas garis-garis formalisme (existing rule) dan transendental, sehingga akan dapat diperoleh pemikiran baru yang mendekataai kebenaran yang hakiki (the ultimate truth). Pemikiran semacam itu sangat menarik untuk kajian hukum dalam rangka untuk menempatkan hukum pada hakikatnya dan menjadikan hukum dapat membahagiakaan
Manusia perlu spiritual quotient karena di masyarakaat barat telah terjadi makna hidup di dunia modern (the crisis of meaning). Spitual quiation merupakan alat bagi bagi manusia untuk dapat membangun berbagai perspektif baru dalam kehidupan, mampu menemukan cakrawala luas pada dunia yang sempit dan bisa merasakan kehadiran tuhan tanpa bertemu dengan Tuhan. SQ dapat digunakan untuk membangkitkan potensi-potensi kemanusiaan yang terpendam, membuat diri manusia semakin kreatif dan mampu mengatasi problem-problem esensial. SQ juga merupakan petunjuk ketika manusia berada di antara order dan chaos, memberikan intuisi tentang makna daan nilai[29].
Penemuan SQ yang dilakukan melalu penelitian berbagai tempat, seperti di Meksiko dan Swedia menunjukan bahwa spiritualisme dan perspektifnya menjadi alternatif mutahir untuk menungkinkan manusia modern bisa keluar dari rasa keterasingan di tengah keramaian untuk menemukan jati diri sebagai manusia dengan pendekatan spiritual, yang di dalamnya ditemukan integrasi nilai secara subtantif. Di sini menunjukan bahwa temuan ilmiah tidak harus bersifat rasional dan logik, tetapi bisa juga sarat dengan nuasa nilai yang tidak dapat dijelaskan secara rasional tetapi dapat dirasakan melalui intuisi batin manusia. Perspektif spiritual menjadi penting dalam dunia ilmu atau pengembangan ilmu untuk menjadi ilmu lebih bermakna bagi kehidupan manusia.
MENURUT KENNETH BOULDING, ILMU ITU SARAT DENGAN NILAI. KEBAHAGIAAN YANG AMAT BESAR DARI KEBERHASILAN MASYARAKAT KEILMUAN DALAM MEMAJUKAN ILMU PENGETAHUAN ADALAH BERKAT SISTEM NILAINYA, DI MANA SUATU PENGABDIAN YANG IMPERSONAL KEPADA KEBENARAN DIANGGAP SEBAGAI NILAI TERTINGGI, KEPADA SIAPA KEBANGGAN PRIBADI MAUPUN KEBANGGAAN NASIONAL HARUS MENUNDUKAN DIRINYA. EDWARD TELLER MENYEBUT, CIRI UTAMA DARI ILMU "IALAH BAHWA IA MENUNTUT DISIPLIN MENTAL YANG BESAR, DAN BAHWA IA MEMBAWA KEPADA PENCAPAIAN INTELEKTUAL YANG AKRAB HUBUNGANNYA DENGAN KESERASIAN DAN KEINDAHAN"[30]
MILL DAN BRANDT DALAM TEORI MORALNYA, MENGATAKAN TINDAKAN BENAR YANG BAIK ADALAH TIDAKAN YANG MENGHASILKAN KEBAIKAN PADA LEBIH BANYAK ORANG[31]. IMMANUEL KANT MENGEMUKAKAN MANUSIA BERKEWAJIBAN MELAKSANAKAN MORAL IMPERATIF, AGAR MASING-MASING BISA BERTINDAK BAIK YANG DILAKUKAN KARENA KESADARAN BUKAN PEMAKSAAN[32]. A.I. MELDEN MENGATAKAN HAK MORAL KEBEBASAN INDIVIDU MEMPUNYAI SALING KETERKAITAN ANTAR INDIVIDU, HAK ATAS KEBAIKAN KOMUNITAS DIBUTUHKAN, TERMASUK HAK MEMBERITAHU PRODUK IPTEK YANG MERUGIKAN KOMUNITAS. ILMU DIARAHKAN PADA KEUTAMAAN DAN KEBAIKAN SOSIAL DALAM SUATU KOMUNITAS. KEBAIKAN YANG DIMAKSUD BUKAN SEKEDAR KEBAIKAN FISIK, MELAINKAN KEBAIKAN MEMBERI KEBAHAGIAAN NON FISIK[33].
DALAM PERJALANAN SEJARAH DAN PENGALAMAN EMFIRIK, SERING DIJUMPAI ADANYA PANDANGAN BAHWA KEBENARAN ILMU HANYA UNTUK ILMU, BAHKAN LEBIH PRAGMATIS LAGI, YAKNI TERGANTUNG KEPADA BERBAGAI KEPENTINGAN, TERMASUK KEPENTINGAN IDEOLOGI DAN POLITIK, KEBENARAN ILMU MENJADI BUTA KARENA PARA ILMUWAN PENEMUNYA TAK BERETIKA DAN TAK BERMORAL, SEHINGGA TIDAK HERAN KALAU HASIL TEMUANNYA DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN YANG TIDAK BERTANGUNGJAWAB, ILMUNYA MENJADI TIDAK BERMANFAT DAN MENDATANGKAN BENCANA KEMANUSIAAN.
NAMUN DEMKIAN ILMU DAN PENGEMBANGANNYA TIDAK BISA LEPAS DARI ETIKA DAN ESTETIKA. SEKALIPUN SERING DICAMPURADUKAN DALAM PENGGUNAANNYA, TETAPI PERSOALAN BAIK-BURUK, SOPAN, JUJUR, PATRIOTIK, SOLIDER ADIL, TEGUH PADA PENDIRIAN YANG BENAR, MENCINTAI KEINDAHAN, DAN LAIN LAIN, KESEMUANNYA AKAN BERKAITAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU DAN PERILAKU KESEHARIAN SEORANG ILMUWAN. KARENA ITU PENGEMBANGAN ILMU MENUNTUT VALUE, ETIKA DAN MORALITAS MEMANUSIAKAN MANUSIA SAMPAI PELESTARIAN LINGKUNGAN. DEMIKIAN JUGA AMAT DIBUTUHKAN PRODUK SENI BERUPA KEINDAHAN DAN KEHARMONISAN, SERTA MORALITAS YANG MENSUCIKAN BATIN.
DEMIKIAN JUGA MENURUT LIEK WILARDJO KETERIKAN ILMU KEPADA NILAI-NILAI MEMBUATNYA TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DARI ETIKA. PERKATAAN "ETIS" MENUNJUK KEPADA BAGAIMANA SUATU BUDAYA BERPENDAPAT SEHARUSNYA BERTINGKAH LAKU. ETIKA MEMBERI NASEHAT MENGENAI TINGKAH LAKU, BIASANYA DALAM BENTUK PERNYATAAN, SEMBOYAN, PEPATAH, PERIBAHASA DAN SEBAGAINYA, YANG MENGANDUNG ARTI, TETAPI TIDAK MENYATAKAN DENGAN TUNTAS, TUJUAN-TUJUAN YANG BAIK DAN DIDAMBAKAN, YANG DIHARAPKAN BISA DICAPAI DENGAN MENGIKUTI NASEHAT-NASEHAT, SERAT AKIBAT-AKIBAT BURUK BILA MELANGGAR NASEHAT-NASEHAT TERSEBUT[34].
DALAM SITUASI HIPOTESIS YANG DELEMATIS HARUS DIPAHAMI BAHWA KEBENARAN MERUPAKAN SUATU NILAI, DEMIKIAN JUGA KEBAIKAN DAN KEMASLAHATAN. KETIGANYA TIDAK BISA DILEPAS DALAM BAGIAN-BAGIAN TERSENDIRI, TETAPI BERKAITAN YANG MENAMPILKAN PANDANGAN BAHWA "ILMU YANG TIDAK BEBAS NILAI". SEORANG ILMUWAN DALAM MENYAMPAKAN KEBENARAN TIDAK BISA LEPAS DARI TATA NILAI KEYAKINAN DAN INTIUSI HATI NURANI YANG MENYUARAKAN ETIK KEMANUSIAAN DAN MORAL, SERTA NILAI-NILAI YANG DIGALI DARI RELUNG-RELUNG KEHIDUPAN MASYARAKAT (BUDAYA) DAN KEMANFATANNYA UNTUK UMAT MANUSIA..
KEBENARAN TRNSENDENTAL SELAMA INI SENGAJA ATAU TIDAK DISENGJA DIJAUHI OLEH PARA ILMUWAN, KARENA DIANGGAP LEKAT DENGAN WILAYAH KAJIAN TEOLOGI (AGAMA). PERTANYAAN MUNCUL, KENAPA ALLAH MENURUKAN AGAMA YANG MENGAJARKAN NILAI-NILAI KEBENARAN, KEBAIKAN DAN KEINDAHAN. LEBIH RUMIT LAGI PEMAHAMAN DAN PENAFSIRAN ANTAR AGAMA TERHADAP SUATU NILAI SERING KALI BERBEDA. INILAH BARANG KALI PENTINGNYA DILAKUKAN DIOLOG AGAMA ATAU NILAI, DALAM RANGKA MENCARI DAN MENGHUBUNGKAN TITIK-TITIK PERSAMAAN MENJADI KONFIGURASI TATANAN NILAI YANG AMAT DIBUTUHKAN MANUSIA YANG MENDAMBAKAN TERCIPTANYA KETENTERAMAN DAN KEDAMAAIN KEHIDUPAN MANUSIA.
ILMU TIDAK BOLEH TINGGAL DIAM UNTUK MENDIALOGKAN PERSOALAN NILAI, DAN TIDAK BOLEH MENGANGGAP BAHWA PERSOLAN NILAI DIANGGAP BUKAN WILAYAHNYA. ILMU PERLU DIDORONG LAGI UNTUK MEMASUKI WILAYAH-WILAYAH SEPERTI ITU DAN MEMFASILITASI DALAM BENTUK MEMBERIKAN SUMBANGAN KELEBIHAN (METODELOGI) YANG DIMILKI, DALAM RANGKA UNTUK MELAKUKAN KONVERGENSI ATAU TITIK TEMU ANTARA PERSOALAN KEBENARAN ILMU DAN KEBENARAN ILAHIAH YANG VERTIKAL. INILAH TUGAS KITA BERSAMA SEBAGAI SEORANG ILMUWAN.
Alam pemikiran spiritual Islam tumbuh tidak lepas dari proses asimilasi dan akulturasi antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Yunani. Dalam Al-Qur'an sendiri tidak ditemukan kata filsafat (al-falsafah), karena Al-Qur'an menggunakan bahas arab asli, sementara al-falsafah merupakan bahasa arab bentukan yang sudah terpengaruh kata filsafat dari bangsa Yunani. Filsafat sebagai ilmu hakikat, dalam Al-Quran disebut dengan kata hikmah, atau al-hikmah. Al-Quran berisi kumpulan tertulis mengenai wahyu Tuhan, sedang hikmah atau filsafat adalah ilmu mengenai hakikat sesuatu[35].
Menurut Ali Ashraf, Ilmu berangkat dari nilai atau moral Al-Qur'an dan Hadits, yang mana keduanya bukan hanya menampilkan ayat-ayat (bukti kebenaran), tetapi juga hudan (pedoman kebijakan), juga rakhmah (anugerah Allah). Karena itu ilmu bukan hanya mencari kebenaran yang didasarkan pada penalaran dan diskursus, melainkan juga mencari kebijakan, kemaslahatan, ridha dan kasih sayang Allah[36].
Dalam perspektif Islam, ilmu secara aksiologis tidak hanya sekedar untuk ilmu, tetapi lebih dari itu ilmu harus bermanfaat untuk kemaslahatan, yakni kepentingan orang banyak. Ilmu ada dan ditemukan di dalam alam kehidupaan masyarakat Manusia disuruh untuk menggunakan potensinya, yakni akal dan hati untuk memahaminya. Dalam Islam akal (al-aql) menempati kedudukan yang teramat penting, disamping hati (kalbu) dan indera yang lain. Karena itu firman Allah yang pertama kali turun melalui Nabi Muhammad SAW adalah surat Al-Alaq yang dikenal dengan surat Iqra (membaca), disebutkan dalam Al-Qur'an "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan", "Bacalah dan Tuhanmu yang paling pemurah". (QS Al-Alaq, ayat 1 dan 3).
Dengan potensi yang dimiliki, manusia diperintahkan membaca kekuasaan Allah yang ada di alam ini, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal" (QS Ali-Imran, ayat 190). "Diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah menciptakan langit dan bumi dan bangsa berlain-lain bahasa dan warna kulit. Sesungguhnya yang demikian ini terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui (berilmu)" (QS Ar-Ruum ayat 22).
Ilmu dalam Islam disamping bias digali beerdasarkan Al-Quran dan Hadits juga terdapat Maslahat Mursalah, yang merupakan sumber hukum tambahan berdasarkan penelitian impiris (istiqra), yang diperoleh dari penonena alam dan peerilaku masyarakat, ditemukan dengan tujuan untuk kemaslahatan kehidupan manusia. Hal tersebut didasarkan pada Al-Quran yang menyebutkan "Dan tiadalah Kami mengutus kamu (nabi), melainkan untuk menjadi rakhmat bagi alam semesta" (QS Al-Anbiya, ayat 107)
Kemaslahatan dapat ditangkap secara jelas oleh orang yang mempunyai dan mau berfikir, sekalipun dalam kasanah pemikiran Islam terdapat perbedaan dalam memahami hakikat maslahat. Perbedaan tersebut bermula dari perbedaan kemampuan intelektualitas orang perorang dalam menafsirkan ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Quran dan hadits, dimana masing-masing ahli pikir mempunyai keterbatasan, sehingga tidak mampu memahamai hakikat maslahat secara sama, karena adanya perbedaan yang bersifat temporal dan kondisi daerah (lokal) yang tidak sama.
Demensi spiritual bisa dilihat pada ajaran yang paling dasar, yakni aqidah, yang mengajarkan pemahaman hubungan antara manusia dengan alam dan dengan Tuhannya. Manusia dan alam pada hakikatnya adalah makhluk yang bersifat fana, sementara Tuhan adalah penguasa atas alam semesta beserta isinya (robbul alamin) yang bersifat kekal (baqa). Kebahagian terbesar seorang muslim mana kala dia mampu pasrah secara tolalitas mematuhi perintah (hukum-hukum) Allah yang bersifat kodrati (sunnahtullah), baik yang bersifat umum ataupun yang terperinci, sebagai konsekwensi dari pengakuannya bahwa Allah Maha Esa, penguasa segalanya, dan segala makhluk bergantung padanya (Q. S. 112 : 1-2)
Segala bentuk penghambaan manusia terhadap makhluk, baik alam (gunung, matahari, angin dll) atau kepada penguasa, pembesar, atasan kerja dll adalah syirik yang tidak diperbolehkan oleh Allah. Karena syirik merupakan perbuatan yang merendahkan martabat manusia, yang mestinya manusia hanya melakukan penghambaan dan pertolongan hanya pada Allah semata. Hanya kepada-Mu aku menyebah dan hanya kepada-Mu aku mohon pertolongan (Q. S. 1 : 5).
Sikap tersebut sebagai konsekwensi bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi (fil ard) (Q. S. 2 { 30), semata-mata dalam rangka melakukan pengahambaan atau pengabdian kepada Allah (Q. S. 51 : 56). Manusia yang diperintahkan oleh oleh untuk menjadi penguasa di muka bumi, mempunyai tugas (amanah) pertama menjaga dan memlihara bumi dan isinya dari kerusakan, kedua melakukan pengelolaan alam lingkungan untuk kesejahteraan manusia secara berkelanjutan (sustainable), dan ketiga melakukan tugas risalah, yakni melakukan penegakan aturan (hukum) terhadap segala bentuk kemungkaran dan perusakan terhadap lingkungan, dan keempat semua yang dilakukan manusia dalam menjalankan hidup, kehidupan dan penghidupan akan dikembalikan atau diminta pertangungjawabannya kepada Allah.
Konsekwensi lebih lanjut manusia tidak diberbolehkan berbuat kerusakan (fasad), berbuat tidak seraakah (eksploitatif) tidak adil (dzalim) dan tidak boleh berbuat kesombongan (sum'ah), serta tidak boleh perbuat boros atau konsumtif (di'a). Tetapi sebaliknya harus berbuat baik (ikhsan), berperilaku santun dan bersahabatn. Semuanya itu dalam rangka untuk meujudkan kedamaian di bumi ini (islah).
Karakteristik alam pada hakikatnya mengikuti ketentuan sunnahtullah, yang bercirikan pertama bersifat pasti (exact), yakni semua yang diciptakan Allah berada dalam keadaan seimbang (QS. 67 : 3-4 ), dan segalanya ada di alam diciptakaan menurut ukuran yang sudah ditentukan dan ditetapkan (QS. 54 : 3). Kedua, alam bersifat tetap (immutable), yakni matahari, bintang, dan bulan bererilaku patuh (istiqomah) bergerak menurut garis edarnya (QS. 36 : 40), dan berisfat tetap tidak berubah dan tidak ada yang merubah-rubah (QS 6 : 115). Ketiga, sifat alam tak mengenal siapapun (obyektif), yakni Allah menurunkan hujan dari langit ke bumi dan tumbuh tumbuh-tumbuhan, tanaman untuk keseluruhan kesejahteraan manusia (QS 16 : 14-18). Allah mencipta makhluk, termasuk manusia dalam keadaan berpasang-pasangan (QS. 36 : 36), dan semuanya akan memperoleh rizki berdasarkan ikhtiar yang dilakukannya.
Agar manusia bisa menjalankan fungsinya maka diciptakan aturan hukum (syariat) yang bersifat kongkrit. Menurut Ziauddin Sardar, syariat adalah suatu pusat nilai yang berisi aturan, yang bertujuan untuk kesejahteraan umum yang universal bagi semua makhluk, mencakup kesejahteraan manusia untuk saat sekarang dan yang akan datang serta di alam baka nanti. Dengan syariat manusia akan mengetahui rambu-rambu antara yang dibolehkan (halal) dan dikharamkan (haram), antara perbuatan merusak (fasad), kedamaian dan kebaikan (iksan)[37].
Syariat yang mengatur masalah alam lingkungan diturunkan oleh Allah melalui firma-Nya lebih banyak bersifat global . Ketentuan hukum tersebut mengatur masalah seperti alam semesta, astronomi, penciptaan bumi, kemakmuran bumi, keaneragaman hayati, berupa plora dan fauna. Semua kemakmuran alam lingkungan diperuntukan untuk manusia, dan manusia sebagai khalifah diperintahkan oleh Allah untuk menjaga, memakmurkan dan melestarikannya.
Bagi umat Islam aturan hukum pengelolaan alam dan upaya penegakan hukumnya dalam rangka menjaga dari kerusakan yang diakibatkan oleh perusakan dan pencemaran alam lingkungan bukanlah persoalan yang terpisah dari perintah ajaran Islam, tetapi merupakan satu kesatuan (integral) ajaran dan perintah agama, yang hukumnya wajib untuk dilaksanakan. Sebab ajaran Islam tidak membedakan antara urusan atau kepentingan dunia dan akherat, sebagaimana yang dikenal dalam masyarakat barat (sekuler). Dengan demikian upaya pengelolaan, pelestarian alam lingkungan melalui berbagai kegiatan pembangunan yang berkelanjutan pada hakikatnya adalah kreatifitas ibadah, asal niat dan cara yang dilakukan semata-mata dalam rangka menjalankan tugas pengabdian dan keridhoan Allah semata.
Perspektif spiritual Ilmu, termasuk ilmu hukum bukan hanya didasarkan pada kebenaran yang qauliyyah, yang tingkat kebenarannya pada taraf haqq al-yakin, yang terhimpun dalam Al-Qur'an dan Hadits, tetapi juga berdasarkan kebenaran yang diperoleh dengan kemampuan potensi manusia melalui ulum naqliyyah, yakni perenungan, penalaran dan diskursus yang berkembang di masyarakat. Manusia menggali, mengolah dan merumuskan ilmu dengan tujuan tidak semata untuk ilmu tetapi juga untuk kebijakan, kemaslahatan masyarakat luas, dengan ridha, dan kasih sayang Allah.
Melalui dialog nilai, Philip Clayton menawarkan paradigma saints yang berangkat pada filsafat emergence. Pada era sekarang manusia menyadari bahwa kejadian-kejadian dunia alamiah tidak dapat dijelaskan hanya mereduksi pada komponen-komponen terkecilnya, tetapi juga harus dikaitkan dengan obyek-obyek dan kejadian-kejadian lain dalam konteks yang lebih luas dimana mereka menjadi bagiannya. Di sini paradigma hukum mempunyai makna baru ketika kita mendaki tangga kemunculan berikutnya pada tataraan wujud yang mempunyai kehendaak bebas seperti kita[38].
Filsafat emergence menawarkan cara-cara untuk melengkapi karya-karya para ilmuwan yang ada sebelumnya, dengan menunjukan cara baru bagaimana sains, filsafat dan teologi dapat saling berhubungan secara harmonis. Mendialogkan antara iman dan sains, hokum wahyu dan hokum dunia menjadi penting, seeklaipun barangkali masih belum diperoleh titik temu, sampai kita mampu belajar lebih jauh melalu repleksi yang modelnya sudah dilakukan para ilmuwaan terdahulu sseperti ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averoes). Dialog nilai merupakan sumbangan pemikiran yang amat menjanjikan di masa mendatang[39].
Cara ynag ilakukan dengan mendiskusikan kembali secara intens dan mendalam sampai alam tataran konseptual tipe hukum, yakni hukum tabiat Ilahi, hukum wahyu, hukum alam, hukum tabiat manusia dan perilakunya, serta hukum moral. Melalui dialog nilai ini dapat membuktikan bahwa sesungguhnya tidak diperlukan ketegangan-ketegangan antara kepercayaan kepada Tuhan dengan hasil temuan ilmiah. Kepercayaan kepada Tuhan sesungguhnya mendukung hasil-hasil itu. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan jawaban atas pertanyaan mendasar yang diajukan ilmu pengetahuan, tetapi tidak dapat dijawab olehnya[40].
E. Paradigma Hukum Indonesia
Hukum atau ilmu hukum yang berkembang di Indonesia, sejak zaman kolonial sampai jaman kemerdekaan, sesungguhnya merupakan suatu cabang parkiran epistemik-falsafati yang perkembangannya merupakan hasil dari introdusir hukum atau ilmu hukum yang konfigurasi tradisi hukum barat yang mulai terjadi secara intens. Kebajikan hukum di negeri jajahan diimplementasikan dengan kebijakan eenchids-bginsed untuk mengunifikasikan hukum bagi seluruh anak negeri di tanah jajahan, tanpa kecuali atas dasar hukum Eropa.[41]
Sekalipun substansi hukum Eropa, sampai saat terlikuidasinya kekuasaan kolonial pada pertengahan abad 20, tak kunjung berhasil diberlakukan untuk seluruh penduduk negeri. Namun demikian, tidak ayal lagi bahwa di Indonesia sejak itu hanya dapat dipahami dari perspektif paradigma epistimologik dan aksiologik sebagaimana telah ditradisikan di Barat. Hal terkesan paling kuat adalah paradigma falsafati positivisme yang berkembang di Perancis pada dua dasawarsa pertama abad 19 yang mengukuhkan aspirasi revolusi besar yang terjadi sebelumnya yang mendambakan kepastian hukum demi terkawalnya hak-hak rakyat.[42]
Perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari alam kolonial ke kemerdekaan adalah suatu perubahan paradigmatis. Secara politik berubah menjadi bangsa pinggiran (proferi) menjadi bangsa yang mengambil alih pusat kekuasaan melalui proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Di Indonesia pada saat kemerdekaan ingin membangun suatu kehidupan baru yang berdasarkan pada asas-asas baru. Di sini, peran UUD 1945 sangat menentukan terjadinya perubahan yang melompat. UUD 1945 merupakan grand design suatu masyarakat dan kehidupan baru di Indonesia.[43]
Sebelum Indonesia dijajah bangsa Barat, sesungguhnya terdapat hukum yang hidup dalam masyarakat, baik hukum yang berasal dari tradisi masyarakat setempat (adat) maupun hukum yang berasal dari agama yang dianut, seperti agama Hindu, Budha dan Islam. Ketika bangsa penjajah datang, mereka juga membawa ketentuan hukum sendiri. Kebajikan yang dilakukan pemerintah jajahan menampakkan suatu kebajikan yang menonjolkan semangat untuk memberlakukan hukum mereka dalam masyarakat pribumi yang diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Karena sifatnya masih mencoba-coba, periode ini sering disebut sebagai periode eksperimentasi hukum perundang-undangan.[44]
Pada alam kemerdekaan, sekalipun sudah ada UUD 1945 yang oleh Satjipto Rahardjo disebut mengandung grand design, upaya Untuk melakukan pembangunan hukum banyak diwarnai produk hukum yang berasal dari hukum kolonial, sekalipun pada awalnya para pendiri negara ini berkeinginan untuk membangun sistem hukum yang berasal (berbasis) dari akar hukum Indonesia sendiri yang sudah ada dan hidup berlangsung lama dari generasi ke generasi. Lompatan paradigmatis dari hukum kolonial ke hukum bangsa merdeka tidak dengan sendirinya secara siologis dapat dengan serta merta diikuti pembangunan hukum yang bertumpu pada paradigma yang baru (alam kemerdekaan). Hal ini disebabkan kesulitan untuk membentuk sistem hukum yang tidak semudah membalik tangan. Di samping itu, masa panjang dari kebijakan pemerintah penjajahan telah menciptakan upaya-upaya penetrasi hukum kolonial ke dalam hukum masyarakat asli Indonesia yang dengan sendirinya tidak mudah untuk dilepaskan.
Bertitik tolak pada apa yang disebut kearifan, Satjipto Raharjo mempunyai keyakinan bahwa kearifan akan dapat menuntun hukum suatu bangsa dan suatu paradigma. Berpijak dari UUD 1945 dan dokumen publik lainnya ada beberapa konsep yang ditawarkan, di antaranya: pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa; kedua, kemanusiaan; ketiga; persatuan; keempat; kerakyatan, kelima; keadilan sosial; keenam; kekeluargaan; ketujuh; harmoni, dan kedelapan, musyawarah. Paradigma tersebut mengandung dimensi transedental yang dapat dikembangkan menjadi sejumlah paradigma dalam bidang nilai, politik, ideology, dan lain-lain.
kirim ke teman | versi cetak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar