Hari ini
Tidak kah kau lihat awan
Hanya garis putih melintang horisontal dilangit
seperti asap yang melesat meninggalkan jejak
Awannya lain dengan kemarin
Kemarin hanyalah gugusan seperti kapas beriak-riak
Hari ini
Tidak kah kau lihat padang rumput hijau disisi jalanan itu
Rumput-rumputnya terbakar habis
Hamparan hijaunya gosong menghitam
Traktor dan mesin-mesin monster kontruksi melintas dengan gagahnya
Melindas apapun yang nampak hidup
Disebelahnya bentangan kain bergambar apartemen telah mengklaim tempatnya
Rumput menangis
Hari ini
Sepertinya kau asyik bermain dengan gadgetmu
Seperti manusia haus pengetahuan akan dunia
Manusia yang selalu ingin mengintip kehidupan manusia lain
Kau sibuk berinteraksi menegaskan eksistensimu
Kepalamu terus saja tertunduk, sesekali melihat tak acuh disekelilingmu
Jari-jarimu tak berhenti menjelajah tombol- tombol kecil
Hari ini
Sepertinya kau sibuk dengan pikiran-pikiranmu
Kenangan masa lalu
Harapan yang nampak menjauh
Lamunan akan sakit hati ditinggalkan dan diabaikan
Lamunan akan ketidak adilan upah yang kau dapat ditempat kerjamu
Lamunan akan cinta yang tak juga kau raih
Hari ini
Kuku kukumu bertambah sepermilimeter
Rambutmu hitammu membuat bercak putih perlahan
Kerutan halus tergerus perlahan disudut matamu
Sang pencipta membuktikan keberadaan-Nya
Sedikit demi sedikit..
Hari ini apakah yang penting, apakah yang tidak penting?
Akankah hal yang penting menjadi tidak penting?
Akankah hal yang tidak penting menjadi penting?
Ah permasalahan dunia...
Jumat, 30 Agustus 2013
Rabu, 14 Agustus 2013
Paradoks Sang pencipta
Setiap totalitas.....
Sepenggalan...
Serpihan...
Sel...
Nukleus..
Molekul..
Atom..
Sampai yang tak kasat mata...
Hanyalah bias-bias realitas...
Kutemukan hanya Allah lah sang paradoks...
Bagi sebagian ia ada, sebagiannya lagi ia tiada...
Bagi sebagian ia nyata, sebagiannya lagi ia tak nyata..
Sepenggalan...
Serpihan...
Sel...
Nukleus..
Molekul..
Atom..
Sampai yang tak kasat mata...
Hanyalah bias-bias realitas...
Kutemukan hanya Allah lah sang paradoks...
Bagi sebagian ia ada, sebagiannya lagi ia tiada...
Bagi sebagian ia nyata, sebagiannya lagi ia tak nyata..
Bersyukur...
Kuku-kuku jariku tak berhenti memanjang
Sehelai demi sehelai rambutku tak berhenti bertumbuh
Rupanya Dia terus mengingatkanku
Bagaimana aku bisa lupa ?
Kuanggap sepele mungkin..
Keterlaluan..
Aku si manusia...
Sehelai demi sehelai rambutku tak berhenti bertumbuh
Rupanya Dia terus mengingatkanku
Bagaimana aku bisa lupa ?
Kuanggap sepele mungkin..
Keterlaluan..
Aku si manusia...
Persepsi dan eksekusi
Seperti seseorang yang berjalan menyendiri
Di tengah badai
Dibawah derasnya hujan
Melawan terpaan angin
Basah kuyup....
Terkadang diam berdiri, merenung..
Jalan lagi..
Pelan-pelan..
Sementara orang-orang menatapnya dibalik jendela mereka
Berpikir ia sinting...
Tak tahukah mereka?
Di tengah badai
Dibawah derasnya hujan
Melawan terpaan angin
Basah kuyup....
Terkadang diam berdiri, merenung..
Jalan lagi..
Pelan-pelan..
Sementara orang-orang menatapnya dibalik jendela mereka
Berpikir ia sinting...
Tak tahukah mereka?
Sesumbar Antara Si Hati dan Si Otak
Kata si otak pada hati :
"Aku ada dua, kanan dan kiri, kaupun...
kau bisa patah hati, sedangkan aku mana ada patah otak?
Berhentilah menjadi melankolis
Kau itu kelewat rapuh..
Turuti aku.."
Kata si hati pada otak :
" Tanpaku otak...
kau hanya akan menjadi seperti mesin mekanis
keberadaanmu akan sangat membosankan
kau takkan pernah belajar bagaimana memproses emosi yang super abstrak itu
Menginterpretasikannya..pasti menjadi prestasi bagimu "
"Aku ada dua, kanan dan kiri, kaupun...
kau bisa patah hati, sedangkan aku mana ada patah otak?
Berhentilah menjadi melankolis
Kau itu kelewat rapuh..
Turuti aku.."
Kata si hati pada otak :
" Tanpaku otak...
kau hanya akan menjadi seperti mesin mekanis
keberadaanmu akan sangat membosankan
kau takkan pernah belajar bagaimana memproses emosi yang super abstrak itu
Menginterpretasikannya..pasti menjadi prestasi bagimu "
Jumat, 05 Juli 2013
Burung kenari dan sipemuda ( hanya dongeng untuk wanita dewasa )
Alkisah ada seorang putri.
Sang puteri bertemu dengan seorang ksatria dan ia jatuh cinta.
Sang putri akhirnya menikah dengan si ksatria.
Mereka tinggal di kastil pemberian orang tua sang putri.
Ternyata ksatria yang baru dikenalnya dan membuatnya mabuk kepayang hanyalah seorang penipu.
Ia hanyalah seorang penjahat yang melarikan diri dari negeri seberang dan berpura-pura layaknya seorang ksatria.
Terlebih lagi setelah menikahinya si ksatria yang penipu ini sering menyakiti hati sang putri.
Sang putri ketakutan.
Sang putripun berusaha melarikan diri.
Si ksatria penipu mengetahuinya, ia tidak rela dan mengunci sang putri sendirian di menara yang tinggi.
Sang putripun terus menangis meratapi penderitaannya.
Setiap hari melalui jendelanya sang putri menangis sembari menyaksikan manusia-manusia yang lalu lalang.
Betapa bebasnya mereka...
Betapa merananya aku...
Suatu hari yang kelabu lewatlah seorang pemuda.
Pemuda itu setiap hari melewati menara sang putri untuk pulang kerumahnya setelah bekerja membajak ladang didesa sang putri.
Pemuda ini selalu bernyanyi.
Suaranya tidak merdu, tapi sangat menyenangkan hati sang putri yang teriris miris.
Setiap saat sang putri tak sabar menunggu saat-saat si pemuda lewat di bawah menaranya dan bernyanyi. Sehingga suatu saat sang putri sangat penasaran terhadap tampang si pemuda.
Ia ingin melihat dari dekat si pemuda.
Sang putri berusaha untuk melongok ke bawah.
Sang putri tak menyadari jendela menara yang licin karena berlumut.
Sang putri terpleset.
Jatuhlah ia dari menara yang tinggi.
Sekaratlah sang putri.
Ia tak sadarkan diri, tapi tidak sampai meninggalkan dunia.
Si pemuda yang saat kejadian mengetahui sang putri terjatuh
Membawa tubuhnya yang sekarat
Dengan petunjuk orang-orang didesa itu si pemuda beserta orang-orang didesa itu membawanya ke rumah orang tua sang putri
Suami sang putri tak perduli sedikitpun
Anehnya roh sang putri dapat berjalan-jalan.
Sang putri merasa bebas, namun ia ketakutan.
Ia takut rohnya tidak akan kembali.
Orang-orang terutama si pemuda tidak dapat melihat roh sang putri, karenanya sang putri merasa tersiksa, ia ingin si pemuda itu melihatnya, menyadari keberadaannya.
Saat rohnya berjalan-jalan tak disadari ia menuju ke suatu gua di luar desa.
Tampaklah olehnya si perempuan tua.
Perempuan itu berkata, " Hai roh halus apa yang kau lakukan disini?, bukankah tempatmu bukan disini?" Sang putri terkejut ternyata si perempuan tua itu dapat melihatnya.
" Wahai perempuan tua siapakah kau"? mengapa kau dapat melihatku? "
"Aku ini penyihir penyendiri, apa yang telah terjadi pada dirimu? mengapa kau nampak begitu sedih?"
"Aku adalah seorang putri yang telah terjatuh dari menara karena kecerobohanku, tubuhku sedang sekarat saat ini, dan nampaknya rohku keluar dari tubuhku, sebenarnya aku merasa bebas dari suamiku yang jahat. ,tapi dilain sisi aku merasa takut. Aku takut jika rohku tidak bisa kembali lagi, dan aku hanyalah menjadi seorang putri yang tidak terlihat."
"Oh begitu ya...", sahut si penyihir
"Hai bukankah kau penyihir? bisakah kau membawaku kembali ke tubuhku? "
"Oh putri nampaknya itu hal yang sulit bagi penyihir kurang pengalaman sepertiku..., uhmm....tapi bagaimana jika aku merubahmu menjadi terlihat...orang-orang setidaknya akan dapat menyadari keberadaanmu."
Sang putripun tergoda, ia teringat akan pemuda itu, ia ingin terlihat oleh pemuda itu.
"Baiklah, ubahlah aku..."
"Apakah kau yakin ? "
Sang putri mengangguk, " Cepatlah penyihir sebelum aku berubah pikiran! cepatlah ! cepatlah! "
"Baiklah jika itu keinginanmu putri..."
Lalu si penyihir berkomat kamit mengucapkan mantera yang terdengar sangat aneh.
Lalu tiba-tiba muncullah asap yang sangat mengaburkan pandangan, mengelilingi tubuh sang putri.
Tiba - tiba sang putri merasa dirinya sangat kecil, tetapi ia merasa kedua tangannya sangat lebar.
Ia berbulu...
Ia berparuh...
"Oh ya ampun !! , kau ubah menjadi apakah aku ini?! "
Sang penyihir pun terkejut.
"Maafkan aku, aku tak menduga akan merubahmu menjadi burung kenari! , maafkan aku nampaknya aku salah mengucapkan mantera!"
Sang penyihir melarikan diri, dengan melenyapkan dirinya.
Sang putri merasa putus asa
Ia merasa sangat sedih.
Dalam hatinya yang bergumul sang putri mencoba untuk menemukan pijakan .
Mencoba berpikir tenang.
"Tak apalah semoga mantera ini tak berlangsung lama, setidaknya si pemuda akan menyadari keberadaanku.."
Lalu terbanglah si burung putri.
Ditemuinyalah pemuda yang saat itu sedang berjalan.
Si burung putri terbang berusaha mengiringi si pemuda yang saat itu sedang bernyanyi.
Saat si pemuda mendendangkan lagu.
Si burung pun ikut bernyanyi mengiringinya.
Si burung putri mengikuti si pemuda pulang kerumahnya.
Si pemuda merasa aneh, tapi si pemuda tidak mengusirnya pergi.
Akhirnya karena kebiasaan setiap hari si burung putri menemani si pemuda kemanapun ia pergi.
"Hai burung mengapa engkau tidak terbang pergi?, mengapa kau selalu menemaniku? bukankah kau bebas pergi kemanapun ?"
Si burung ingin menjawab, tapi ia takut si pemuda akan takut kepadanya yang bisa berbicara dan pergi ketakutan meninggalkannya.
Akhirnya seiring berjalannya waktu si burung putri yang menyerupai burung kenari tinggal bersama si pemuda itu.
Si pemuda tidak kesepian lagi didalam kamarnya, karena ia selalu ditemani sang burung.
Terkadang ia berbicara terhadap si burung seakan-akan si burung adalah manusia.
Terkadang si pemuda membagikan pengalamannya hari itu terhadap si burung.
Mereka seringkali menyanyi bersama.
Semakin lama orang tua si pemuda merasa khawatir jika si pemuda sudah atau bisa saja dalam proses menuju kegilaan, karena selalu menghabiskan waktunya bersama si burung yang tidak jelas.
Ibunya menginginkan agar si pemuda membuang si burung, karena ibunya takut si burung akan mempengaruhi kejiwaan si pemuda.
Orang tua si pemuda juga ingin agar si pemuda segera mendapatkan seorang perempuan yang sepadan dan menikahinya.
Si pemuda sudah melewati umurnya untuk menikah.
Si pemuda seperti dihentakkan.,disadarkan.
Sebelum bertemu dengan si burung kenari jika orang tuanya menginginkan ia menikah pasti ia akan menurutinya, setelah ia bertemu dengan si burung ia merasa seperti bukan dirinya lagi, mungkin karena ia sering tidak merasa kesepian lagi, dan karenanya ia melupakan yang lain-lain.
Tapi memang si pemuda seperti telah tersadar betapa apa yang dilakukannya selama ini memang agak tidak biasa.
Menghabiskan waktu dengan si burung, yang bukan sesama manusianya
Dan melupakan kehidupan yang masih membentang luas dihadapannya.
Si pemudapun meminta saran dari Tuan tanah si pemilik ladang tempat ia bekerja.
Kata si tuan tanah, " Turutilah kata-kata orang tuamu, terlebih lagi perkataan ibumu, karena nasihat seorang ibu harus didengar, surga ditelapak kaki ibumu nak."
Si pemuda dengan berat hati pulang kerumahnya.
Ia merasa dirinya jungkir balik.
Ia merasa sudah saatnya hatinya yang melankolis dibalikkan kepikirannya yang selogis mungkin.
Ia berkata kepada si burung, " Hai burung maafkanlah aku, aku harus membuangmu , ibuku khawatir akan kewarasanku, ibuku khawatir jika aku bersamamu terus menerus aku akan menjadi gila, dan pada akhirnya tidak akan ada perempuan yang bersedia kunikahi."
Si burungpun merasa sangat sedih.
Untuk pertamakalinya si burung mengeluarkan suaranya. " Hai pemuda, tak bisakah kau menunggu sampai mantera terkutuk ini lepas dariku ?"
Si pemuda sangat terkejut, " Hai burung kau ternyata dapat berbicara?!"
" Iya memang aku dapat berbicara, sebenarnya aku adalah seorang puteri yang sedang sekarat, dan saat ini aku sedang di manterai, sehingga aku menjadi burung."
Sang putripun menceritakan segalanya kepada si pemuda.
"Wahai pemuda yang baik hati, maukah kau menungguku sampai mantera ini hilang?"
Si pemuda termenung, kata-kata si tuan tanah terngiang-ngiang di telinganya.
Si pemuda meminta dan membutuhkan waktu untuk sendiri dan mencoba mempertaruhkan buah pikiran logisnya.
Akhirnya setelah beberapa hari yang penuh penyiksaan batin
Dan juga mencoba mengingat ingat betapa cantiknya sang putri yang saat itu sekarat di pelukannya sebelum ia membawanya untuk dirawat dirumah sang putri
Dan betapa dari cerita sang putri ia akhirnya mengetahui bahwa sang putri terjatuh karena ingin melihatnya,
si pemudapun membuat keputusan.
"Baiklah aku akan memberimu waktu sebulan lagi, jika dalam jangka waktu itu kau tidak berubah juga, aku terpaksa membuangmu, dan menikah dengan perempuan lain"
Dalam hati si pemuda sebenarnya agak ragu-ragu, namun ia mencoba untuk berkeyakinan sedikit.
Si burungpun merasa gembira tapi juga khawatir, namun terbersit pertanyaan di benak si burung, " Wahai pemuda, aku tak pernah melihatmu dengan perempuan manapun, dengan siapakah kau akan menikah? " "Aku tak tahu burung, yang jelas mulai saat ini aku akan membuka diriku untuk wanita lain, aku tak akan berdiam diri seperti ini lagi, menghabiskan waktu luangku hanya denganmu saja.."
Si burung terkejut mendengarnya. Hatinya kembali sedih.
Tapi ia tak dapat melakukan apa-apa dengan keputusan yang telah dibuat oleh si pemuda, karena ia tidak merasa berhak mengatur perasaan si pemuda.
Terlebih lagi ia hanya nampak seperti seekor burung kenari.
Waktupun terus berjalan.
Dalam berjalannya waktu si burung merasa tertekan.
Si burung kehilangan semangatnya untuk bernyanyi mengiringi si pemuda.
Semakin lama si pemudapun merasa semakin bosan padanya.
Sementara itu si pemuda telah membuka hatinya untuk berkenalan dengan perempuan lain.
Si pemuda akhirnya bertemu dengan perempuan lain didesa itu.
Perempuan itu telah menarik hatinya.
Dibawanyalah perempuan itu ke rumah nya, untuk diperkenalkan dengan ibunya.
Ibunya sangat bahagia dan lega dengan perempuan pilihan si pemuda.
Si burung pun semakin tertekan, larut dalam kesedihan.
Si pemuda semakin hari melupakan si burung.
Semakin lama, waktu yang telah ditetapkan selama sebulanpun mendekati akhirnya.
Si pemudapun menikah dengan perempuan yang telah menarik hatinya.
Si burung sangat bersedih hati karenanya.
"Oh engkau tidak mau menungguku, engkau sudah tidak sabar dengan wanita pilhan hatimu, engkau telah melupakanku. Tak tahukah kau aku sangat mencintaimu..."
Dan si burung akhirnya pergi terbang dari rumah si pemuda.
Tak ada seorangpun memperdulikannya.
Saat si burung mulai mengepakkan sayapnya, ia terkejut, berangsur angsur tubuhnya berubah menjadi dirinya sendiri, sang puteri cantik, namun ia tidak dapat bergembira.
Ia ingin kembali lagi kepada si pemuda, namun nampaknya semuanya sudah terlambat.
Saat ia berubah, tiba- tiba si penyihir datang kepadanya, " Sekarang aku baru ingat ternyata mantera itu akan berakhir, saat kau benar-benar mengalami jatuh cinta"
"Tapi semuanya sudah terlambat hai penyihir, pemuda yang aku cintai telah menikah dengan perempuan lain,ia tidak sabar menungguku, tapi memang aku tidak bisa menyalahkanya, aku hanyalah seekor burung di matanya, ia telah mendapatkan seorang perempuan yang sepadan dengannya"
"Bukankah cinta adalah pengorbanan putri? bukankah cinta itu tak harus memiliki? bukankah cinta itu adalah pengalaman? cinta tidak harus berbahagia diakhir, tapi setidaknya kita sudah mengalami apa yang sebenarnya dinamakan cinta itu? "
"Hai penyihir mengapa kau bisa mengatakan seperti itu?, seperti kau ahli dalam cinta mencinta saja..", sahut sang putri skeptis
" Karena aku pernah mengalami apa yg kau alami putri...,oleh karenanya aku menyebut diriku penyihir penyendiri..."
" Kalau begitu aku juga mau menyendiri saja seumur hidupku.."
Sang Putripun berjalan pergi...
Sang puteri bertemu dengan seorang ksatria dan ia jatuh cinta.
Sang putri akhirnya menikah dengan si ksatria.
Mereka tinggal di kastil pemberian orang tua sang putri.
Ternyata ksatria yang baru dikenalnya dan membuatnya mabuk kepayang hanyalah seorang penipu.
Ia hanyalah seorang penjahat yang melarikan diri dari negeri seberang dan berpura-pura layaknya seorang ksatria.
Terlebih lagi setelah menikahinya si ksatria yang penipu ini sering menyakiti hati sang putri.
Sang putri ketakutan.
Sang putripun berusaha melarikan diri.
Si ksatria penipu mengetahuinya, ia tidak rela dan mengunci sang putri sendirian di menara yang tinggi.
Sang putripun terus menangis meratapi penderitaannya.
Setiap hari melalui jendelanya sang putri menangis sembari menyaksikan manusia-manusia yang lalu lalang.
Betapa bebasnya mereka...
Betapa merananya aku...
Suatu hari yang kelabu lewatlah seorang pemuda.
Pemuda itu setiap hari melewati menara sang putri untuk pulang kerumahnya setelah bekerja membajak ladang didesa sang putri.
Pemuda ini selalu bernyanyi.
Suaranya tidak merdu, tapi sangat menyenangkan hati sang putri yang teriris miris.
Setiap saat sang putri tak sabar menunggu saat-saat si pemuda lewat di bawah menaranya dan bernyanyi. Sehingga suatu saat sang putri sangat penasaran terhadap tampang si pemuda.
Ia ingin melihat dari dekat si pemuda.
Sang putri berusaha untuk melongok ke bawah.
Sang putri tak menyadari jendela menara yang licin karena berlumut.
Sang putri terpleset.
Jatuhlah ia dari menara yang tinggi.
Sekaratlah sang putri.
Ia tak sadarkan diri, tapi tidak sampai meninggalkan dunia.
Si pemuda yang saat kejadian mengetahui sang putri terjatuh
Membawa tubuhnya yang sekarat
Dengan petunjuk orang-orang didesa itu si pemuda beserta orang-orang didesa itu membawanya ke rumah orang tua sang putri
Suami sang putri tak perduli sedikitpun
Anehnya roh sang putri dapat berjalan-jalan.
Sang putri merasa bebas, namun ia ketakutan.
Ia takut rohnya tidak akan kembali.
Orang-orang terutama si pemuda tidak dapat melihat roh sang putri, karenanya sang putri merasa tersiksa, ia ingin si pemuda itu melihatnya, menyadari keberadaannya.
Saat rohnya berjalan-jalan tak disadari ia menuju ke suatu gua di luar desa.
Tampaklah olehnya si perempuan tua.
Perempuan itu berkata, " Hai roh halus apa yang kau lakukan disini?, bukankah tempatmu bukan disini?" Sang putri terkejut ternyata si perempuan tua itu dapat melihatnya.
" Wahai perempuan tua siapakah kau"? mengapa kau dapat melihatku? "
"Aku ini penyihir penyendiri, apa yang telah terjadi pada dirimu? mengapa kau nampak begitu sedih?"
"Aku adalah seorang putri yang telah terjatuh dari menara karena kecerobohanku, tubuhku sedang sekarat saat ini, dan nampaknya rohku keluar dari tubuhku, sebenarnya aku merasa bebas dari suamiku yang jahat. ,tapi dilain sisi aku merasa takut. Aku takut jika rohku tidak bisa kembali lagi, dan aku hanyalah menjadi seorang putri yang tidak terlihat."
"Oh begitu ya...", sahut si penyihir
"Hai bukankah kau penyihir? bisakah kau membawaku kembali ke tubuhku? "
"Oh putri nampaknya itu hal yang sulit bagi penyihir kurang pengalaman sepertiku..., uhmm....tapi bagaimana jika aku merubahmu menjadi terlihat...orang-orang setidaknya akan dapat menyadari keberadaanmu."
Sang putripun tergoda, ia teringat akan pemuda itu, ia ingin terlihat oleh pemuda itu.
"Baiklah, ubahlah aku..."
"Apakah kau yakin ? "
Sang putri mengangguk, " Cepatlah penyihir sebelum aku berubah pikiran! cepatlah ! cepatlah! "
"Baiklah jika itu keinginanmu putri..."
Lalu si penyihir berkomat kamit mengucapkan mantera yang terdengar sangat aneh.
Lalu tiba-tiba muncullah asap yang sangat mengaburkan pandangan, mengelilingi tubuh sang putri.
Tiba - tiba sang putri merasa dirinya sangat kecil, tetapi ia merasa kedua tangannya sangat lebar.
Ia berbulu...
Ia berparuh...
"Oh ya ampun !! , kau ubah menjadi apakah aku ini?! "
Sang penyihir pun terkejut.
"Maafkan aku, aku tak menduga akan merubahmu menjadi burung kenari! , maafkan aku nampaknya aku salah mengucapkan mantera!"
Sang penyihir melarikan diri, dengan melenyapkan dirinya.
Sang putri merasa putus asa
Ia merasa sangat sedih.
Dalam hatinya yang bergumul sang putri mencoba untuk menemukan pijakan .
Mencoba berpikir tenang.
"Tak apalah semoga mantera ini tak berlangsung lama, setidaknya si pemuda akan menyadari keberadaanku.."
Lalu terbanglah si burung putri.
Ditemuinyalah pemuda yang saat itu sedang berjalan.
Si burung putri terbang berusaha mengiringi si pemuda yang saat itu sedang bernyanyi.
Saat si pemuda mendendangkan lagu.
Si burung pun ikut bernyanyi mengiringinya.
Si burung putri mengikuti si pemuda pulang kerumahnya.
Si pemuda merasa aneh, tapi si pemuda tidak mengusirnya pergi.
Akhirnya karena kebiasaan setiap hari si burung putri menemani si pemuda kemanapun ia pergi.
"Hai burung mengapa engkau tidak terbang pergi?, mengapa kau selalu menemaniku? bukankah kau bebas pergi kemanapun ?"
Si burung ingin menjawab, tapi ia takut si pemuda akan takut kepadanya yang bisa berbicara dan pergi ketakutan meninggalkannya.
Akhirnya seiring berjalannya waktu si burung putri yang menyerupai burung kenari tinggal bersama si pemuda itu.
Si pemuda tidak kesepian lagi didalam kamarnya, karena ia selalu ditemani sang burung.
Terkadang ia berbicara terhadap si burung seakan-akan si burung adalah manusia.
Terkadang si pemuda membagikan pengalamannya hari itu terhadap si burung.
Mereka seringkali menyanyi bersama.
Semakin lama orang tua si pemuda merasa khawatir jika si pemuda sudah atau bisa saja dalam proses menuju kegilaan, karena selalu menghabiskan waktunya bersama si burung yang tidak jelas.
Ibunya menginginkan agar si pemuda membuang si burung, karena ibunya takut si burung akan mempengaruhi kejiwaan si pemuda.
Orang tua si pemuda juga ingin agar si pemuda segera mendapatkan seorang perempuan yang sepadan dan menikahinya.
Si pemuda sudah melewati umurnya untuk menikah.
Si pemuda seperti dihentakkan.,disadarkan.
Sebelum bertemu dengan si burung kenari jika orang tuanya menginginkan ia menikah pasti ia akan menurutinya, setelah ia bertemu dengan si burung ia merasa seperti bukan dirinya lagi, mungkin karena ia sering tidak merasa kesepian lagi, dan karenanya ia melupakan yang lain-lain.
Tapi memang si pemuda seperti telah tersadar betapa apa yang dilakukannya selama ini memang agak tidak biasa.
Menghabiskan waktu dengan si burung, yang bukan sesama manusianya
Dan melupakan kehidupan yang masih membentang luas dihadapannya.
Si pemudapun meminta saran dari Tuan tanah si pemilik ladang tempat ia bekerja.
Kata si tuan tanah, " Turutilah kata-kata orang tuamu, terlebih lagi perkataan ibumu, karena nasihat seorang ibu harus didengar, surga ditelapak kaki ibumu nak."
Si pemuda dengan berat hati pulang kerumahnya.
Ia merasa dirinya jungkir balik.
Ia merasa sudah saatnya hatinya yang melankolis dibalikkan kepikirannya yang selogis mungkin.
Ia berkata kepada si burung, " Hai burung maafkanlah aku, aku harus membuangmu , ibuku khawatir akan kewarasanku, ibuku khawatir jika aku bersamamu terus menerus aku akan menjadi gila, dan pada akhirnya tidak akan ada perempuan yang bersedia kunikahi."
Si burungpun merasa sangat sedih.
Untuk pertamakalinya si burung mengeluarkan suaranya. " Hai pemuda, tak bisakah kau menunggu sampai mantera terkutuk ini lepas dariku ?"
Si pemuda sangat terkejut, " Hai burung kau ternyata dapat berbicara?!"
" Iya memang aku dapat berbicara, sebenarnya aku adalah seorang puteri yang sedang sekarat, dan saat ini aku sedang di manterai, sehingga aku menjadi burung."
Sang putripun menceritakan segalanya kepada si pemuda.
"Wahai pemuda yang baik hati, maukah kau menungguku sampai mantera ini hilang?"
Si pemuda termenung, kata-kata si tuan tanah terngiang-ngiang di telinganya.
Si pemuda meminta dan membutuhkan waktu untuk sendiri dan mencoba mempertaruhkan buah pikiran logisnya.
Akhirnya setelah beberapa hari yang penuh penyiksaan batin
Dan juga mencoba mengingat ingat betapa cantiknya sang putri yang saat itu sekarat di pelukannya sebelum ia membawanya untuk dirawat dirumah sang putri
Dan betapa dari cerita sang putri ia akhirnya mengetahui bahwa sang putri terjatuh karena ingin melihatnya,
si pemudapun membuat keputusan.
"Baiklah aku akan memberimu waktu sebulan lagi, jika dalam jangka waktu itu kau tidak berubah juga, aku terpaksa membuangmu, dan menikah dengan perempuan lain"
Dalam hati si pemuda sebenarnya agak ragu-ragu, namun ia mencoba untuk berkeyakinan sedikit.
Si burungpun merasa gembira tapi juga khawatir, namun terbersit pertanyaan di benak si burung, " Wahai pemuda, aku tak pernah melihatmu dengan perempuan manapun, dengan siapakah kau akan menikah? " "Aku tak tahu burung, yang jelas mulai saat ini aku akan membuka diriku untuk wanita lain, aku tak akan berdiam diri seperti ini lagi, menghabiskan waktu luangku hanya denganmu saja.."
Si burung terkejut mendengarnya. Hatinya kembali sedih.
Tapi ia tak dapat melakukan apa-apa dengan keputusan yang telah dibuat oleh si pemuda, karena ia tidak merasa berhak mengatur perasaan si pemuda.
Terlebih lagi ia hanya nampak seperti seekor burung kenari.
Waktupun terus berjalan.
Dalam berjalannya waktu si burung merasa tertekan.
Si burung kehilangan semangatnya untuk bernyanyi mengiringi si pemuda.
Semakin lama si pemudapun merasa semakin bosan padanya.
Sementara itu si pemuda telah membuka hatinya untuk berkenalan dengan perempuan lain.
Si pemuda akhirnya bertemu dengan perempuan lain didesa itu.
Perempuan itu telah menarik hatinya.
Dibawanyalah perempuan itu ke rumah nya, untuk diperkenalkan dengan ibunya.
Ibunya sangat bahagia dan lega dengan perempuan pilihan si pemuda.
Si burung pun semakin tertekan, larut dalam kesedihan.
Si pemuda semakin hari melupakan si burung.
Semakin lama, waktu yang telah ditetapkan selama sebulanpun mendekati akhirnya.
Si pemudapun menikah dengan perempuan yang telah menarik hatinya.
Si burung sangat bersedih hati karenanya.
"Oh engkau tidak mau menungguku, engkau sudah tidak sabar dengan wanita pilhan hatimu, engkau telah melupakanku. Tak tahukah kau aku sangat mencintaimu..."
Dan si burung akhirnya pergi terbang dari rumah si pemuda.
Tak ada seorangpun memperdulikannya.
Saat si burung mulai mengepakkan sayapnya, ia terkejut, berangsur angsur tubuhnya berubah menjadi dirinya sendiri, sang puteri cantik, namun ia tidak dapat bergembira.
Ia ingin kembali lagi kepada si pemuda, namun nampaknya semuanya sudah terlambat.
Saat ia berubah, tiba- tiba si penyihir datang kepadanya, " Sekarang aku baru ingat ternyata mantera itu akan berakhir, saat kau benar-benar mengalami jatuh cinta"
"Tapi semuanya sudah terlambat hai penyihir, pemuda yang aku cintai telah menikah dengan perempuan lain,ia tidak sabar menungguku, tapi memang aku tidak bisa menyalahkanya, aku hanyalah seekor burung di matanya, ia telah mendapatkan seorang perempuan yang sepadan dengannya"
"Bukankah cinta adalah pengorbanan putri? bukankah cinta itu tak harus memiliki? bukankah cinta itu adalah pengalaman? cinta tidak harus berbahagia diakhir, tapi setidaknya kita sudah mengalami apa yang sebenarnya dinamakan cinta itu? "
"Hai penyihir mengapa kau bisa mengatakan seperti itu?, seperti kau ahli dalam cinta mencinta saja..", sahut sang putri skeptis
" Karena aku pernah mengalami apa yg kau alami putri...,oleh karenanya aku menyebut diriku penyihir penyendiri..."
" Kalau begitu aku juga mau menyendiri saja seumur hidupku.."
Sang Putripun berjalan pergi...
Minggu, 24 Maret 2013
Memoar fiksi si perempuan pembuat arang : Saat Adzan Dikumandangkan
Setiap hari aku terbangun sekitar subuh
Aku tak memiliki jam weker
Aku tak memiliki seseorang untuk membangunkanku
Tetapi aku selalu tahu jika tiba waktuku
Memercikkan air wudhu di lima waktu yang pertama
Jika tiba saat-saat lima waktu shalat
Kuhamparkan sajadah yang terbuat dari karung goni diatas lantai tanahku
Kukenakan mukena kusam bekas pemberian cuma-cuma dari masjid dusunku dua puluh tahun lalu
Dan aku mulai membuka doaku dengan Allahuakbar, Allah Maha Besar
Allah selalu Maha Besar bagiku...
Aku tahu dimata manusia aku perempuan tua miskin kesepian
Aku tahu aku hanyalah seorang perempuan pembuat arang
Setiap hari kujual arangku dengan harga murah dari desa ke desa
Tapi Allah sungguh baik padaku
Selalu ada saja kayu dan ranting didalam hutan belakang gubukku yang dapat kuolah menjadi arang
Oh lihatlah kebun belakang rumahku, daun singkongnya hijau-hijau
Singkongnya gemuk-gemuk, meski tak pernah kupupuki
Dan setiap hujan badai, gubukku ini ajaibnya masih tetap bertahan
Terkadang ada saja kelinci liar yang tersesat
Kupanggang saja dia
Yakinku inilah tanda-tanda kebesaran Allah untukku
Aku tak pernah sampai pingsan kelaparan
Orang lain boleh mengira aku miskin dan kesepian
Orang lain boleh mengira Allah tak memberkahiku
Tetapi hanya aku dan Allah yang tahu
Dalam kesendirianku
Dalam kemiskinanku
Aku menemukan Allah disana
Bagiku kehidupan di dunia ini hanyalah sementara
Dunia ini adalah tempat dimana Allah menguji hatiku
Dan akupun terus berjuang tetap berjalan didalam keridhaan-Nya
Ada satu keinginanku
Bukan rumah mewah, bukan pakaian bagus
Aku hanya ingin menghembuskan napas terakhirku didalam mushola
Saat adzan dikumandangkan...
Dan kumulai bersujud..
Aku tak memiliki jam weker
Aku tak memiliki seseorang untuk membangunkanku
Tetapi aku selalu tahu jika tiba waktuku
Memercikkan air wudhu di lima waktu yang pertama
Jika tiba saat-saat lima waktu shalat
Kuhamparkan sajadah yang terbuat dari karung goni diatas lantai tanahku
Kukenakan mukena kusam bekas pemberian cuma-cuma dari masjid dusunku dua puluh tahun lalu
Dan aku mulai membuka doaku dengan Allahuakbar, Allah Maha Besar
Allah selalu Maha Besar bagiku...
Aku tahu dimata manusia aku perempuan tua miskin kesepian
Aku tahu aku hanyalah seorang perempuan pembuat arang
Setiap hari kujual arangku dengan harga murah dari desa ke desa
Tapi Allah sungguh baik padaku
Selalu ada saja kayu dan ranting didalam hutan belakang gubukku yang dapat kuolah menjadi arang
Oh lihatlah kebun belakang rumahku, daun singkongnya hijau-hijau
Singkongnya gemuk-gemuk, meski tak pernah kupupuki
Dan setiap hujan badai, gubukku ini ajaibnya masih tetap bertahan
Terkadang ada saja kelinci liar yang tersesat
Kupanggang saja dia
Yakinku inilah tanda-tanda kebesaran Allah untukku
Aku tak pernah sampai pingsan kelaparan
Orang lain boleh mengira aku miskin dan kesepian
Orang lain boleh mengira Allah tak memberkahiku
Tetapi hanya aku dan Allah yang tahu
Dalam kesendirianku
Dalam kemiskinanku
Aku menemukan Allah disana
Bagiku kehidupan di dunia ini hanyalah sementara
Dunia ini adalah tempat dimana Allah menguji hatiku
Dan akupun terus berjuang tetap berjalan didalam keridhaan-Nya
Ada satu keinginanku
Bukan rumah mewah, bukan pakaian bagus
Aku hanya ingin menghembuskan napas terakhirku didalam mushola
Saat adzan dikumandangkan...
Dan kumulai bersujud..
Selasa, 08 Januari 2013
Merindukanmu Nak...
Saat kau diambil paksa dariku
Yang tersisa hanyalah kerinduan yang menyesakkan
Aku yang mengandungmu
Mengajakmu kemanapun dalam rahimku
Mencintaimu sebelum aku melihatmu
Merasakan sakit saat melahirkanmu
Bayi putihku yang tampan
Hanya akulah yang paling mengenalmu
Kau hanya minum dari diriku dibulan-bulan pertama kelahiranmu
Saat kau masih kecil dan kau memiliki adik lagi
Aku selalu berusaha mengajak kalian berdua kemanapun
Saat aku mengajakmu duduk diujung kereta dorong adik bayimu
mengajakmu dan adikmu pergi berbelanja ke pasar
Di lain hari sembari tangan kanan memeluk adikmu dan kau kugandeng ditangan kiri
Aku selalu berpikir kita adalah trio yang takkan terpisahkan
Kau, aku ,dan adik perempuanmu selalu bersama
Saat kau beranjak menjadi kanak-kanak
Aku mengajakmu bersepeda dan kau duduk disadel depan
Kau tertawa-tawa kegirangan
Kau berteriak " Mama awas hati-hati jangan kecemplung sungai, banyak buayanya!"
Kau lucu nak....
Aku tak pernah lupapun
Saat pertama kali aku mengantarkanmu ke sekolah pertamamu
Kau tidak menangis keras pada saat itu
Kau hanya berdiri tegang didepan sekolah
Aku membisikkanmu bahwa kau akan baik-baik saja
Kau akan memiliki banyak teman
Mama akan menunggumu diluar sini
Mama tak akan meninggalkanmu
Ingatkah kau nak
Saat aku mengajarimu abjad
Seharian kita mengguntingi kertas karton
Seharian kita mewarnai kertas itu
Kemudian satu persatu ditempel ditembok kamar
Kau keras kepala sekali waktu itu
Aku hampir menyerah saat mengajarimu membaca dan menulis
Tapi aku bersyukur pada Tuhan saat kau bisa menuliskan
Kata pertamamu : "Mama"
Kau berhasil membuatku menangis bahagia nak
Dan lihatlah kau setelahnya
Tumpukan buku-bukumu menggunung
Setiap hari tak henti-hentinya kau membaca
Setiap aku pulang bekerja
Tak henti-hentinya kau bercerita apa saja kegiatanmu hari itu
Terkadang aku lelah dan aku hanya mendengarkan sambil lalu saja nak
Maafkan aku nak
Aku selalu merasa dirimu adalah aku nak
Dirimu yang suka menggambar
Dirimu yang suka membaca
Dirimu yang suka bercerita
Dirimu yang berimajinasi tinggi
Sekarang kau hanyalah pensil-pensil warna berceceran
Sekarang kau hanyalah gambar-gambar bisu
Sekarang kau hanyalah buku-buku tergeletak
Sekarang malam-malamku sunyi tanpa cerita celotehanmu
Sekarang malam-malamku dilengan kanan ini tak ada lagi kepalamu yang bersandar
Aku merindukan kepala bundarmu
Ubun-ubunmu yang berambut cokelat
Gigi kecil-kecilmu yang seperti pagar
Matamu yang bagian hitamnya lebih besar
Tangisan mengembikmu yang melengking
Ceruk diantara tengkorak kepalamu
Yang sering kugosok-gosok saat kau tertidur
Jari-jari pendekmu yang gemuk-gemuk
Aku sering mencandaimu kakimu seperti kipas karena lebar
Kau malaikat kecilku pemuja dinosaurus
Serasa ingin kuborong semua dinosaurus ditoko-toko itu
Kau si penyuka telur dadar
Membuatku harus selalu berkreasi agar tak bosan memasakkanmu telur dadar
Si pemasak bisa bosan
Si pemakan tak bosan-bosan
Ah anakku sekarang persediaan telur dikulkas tak cepat habis
Kenakalan-kenakalanmu...
Lompat-lompatlah ditempat tidur sesukamu
Berteriak-teriaklah sekeras yang kau suka
aku bahkan tidak akan keberatan jika kau menakaliku lagi
Ganggu aku lagi nak...
Saat aku sedang memasak kau menaiki meja
lampu tiba-tiba mati dan kau cekikikan berlari menjauh
Berceritalah padaku sebanyak yang kau bisa
Dan aku berjanji akan kudengarkan
Meski harus sampai ketiduran
Terkadang disaat pagi dihari libur sekolahmu
Dan kau tahu aku sedang bersiap-siap bekerja
Kau menjadi kesal
Kau melempar semua barang yang ada didekatmu
Dan kau tak ingin melihat wajahku saat aku ingin menciummu tuk berpamitan
Aku tahu kau marah
Maafkan aku nak
Tenggorokan mama juga tercekat
Maafkan aku nak, jika aku harus membagi kasih sayangku dengan adikmu
Maafkan aku nak jika saat malam kau ingin dipeluk
Tapi adikmu juga,aku harus memeluk adikmu
Pilihan yang sangat sulit untukku nak
Setelah adikmu tertidur
Aku segera menoleh kearahmu
Ternyata aku sudah terlambat
Kau sudah tertidur dengan menghadap tembok
Di saat itulah aku hanya bisa mengelus elus punggungmu
Memelukmu dari belakang
Mendoakan kau takkan merasa kekurangan kasih sayang dariku
Aku selalu menyayangimu lebih dari hidupku
Seandainya kau mengerti nak
Apapun akan kulakukan untuk membahagiakanmu
Tak tahukah kau, aku seringkali merasa depresi
Saat aku tak bisa memenuhi keinginanmu
Mungkin ini semacam kutukan untuk seorang ibu nak
Selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya
Meskipun harus sampai hancur lebur
Dan menghancurkan dirinya sendiri saat tak ada lagi yang bisa diberikan
Beberapa hari sebelum kau dibawa pergi
Saat aku sedang memasak
Kau tiba-tiba datang memelukku
Mengatakan kau menyayangiku
Kemudian kau berlari pergi
Kau membuatku terkejut
Kau berhasil membuat hatiku berbunga-bunga
Malam hari sebelum paginya kau dibawa pergi
Aku menjalinkan jemariku dengan jemarimu sangat erat nak
Sampai jemarimu melonggar
Dan kulihat kau sudah tertidur
Aku ternyata tak berhasil menautkan jemariku lagi dengan jemarimu setelahnya
Setiap hari kau membuatku menangis nak
Air mata yang meleleh tak kenal waktu dan tempat
Kapan aku bisa bertemu lagi denganmu nak
Orang-orang jahat itu merebutmu dariku
Mereka membentakku
Mereka memakiku
Tak memperdulikan air mataku
Teriakanku saat tanganku mencoba menggapaimu
Aku hanya ingin memelukmu
Mereka menarikku menjauh darimu
Aku yang menangis ini
Dihadapkan pada seringai kemenangan mereka
Manusia-manusia tak punya hati
Mendzolimi hati seorang ibu
Saat aku dipaksa pergi meninggalkanmu
Disaat itulah aku tahu
Setengah jiwaku sudah tercerabut paksa dari diriku
Mama akan berjuang untukmu nak
Aku takkan membiarkanmu berpisah dari adikmu
Aku takkan membiarkanmu berpisah dariku
Kerinduan yang berkepanjangan ini harus diakhiri
Semoga Allah menyertai ibumu ini
Allah Maha Adil
Yang tersisa hanyalah kerinduan yang menyesakkan
Aku yang mengandungmu
Mengajakmu kemanapun dalam rahimku
Mencintaimu sebelum aku melihatmu
Merasakan sakit saat melahirkanmu
Bayi putihku yang tampan
Hanya akulah yang paling mengenalmu
Kau hanya minum dari diriku dibulan-bulan pertama kelahiranmu
Saat kau masih kecil dan kau memiliki adik lagi
Aku selalu berusaha mengajak kalian berdua kemanapun
Saat aku mengajakmu duduk diujung kereta dorong adik bayimu
mengajakmu dan adikmu pergi berbelanja ke pasar
Di lain hari sembari tangan kanan memeluk adikmu dan kau kugandeng ditangan kiri
Aku selalu berpikir kita adalah trio yang takkan terpisahkan
Kau, aku ,dan adik perempuanmu selalu bersama
Saat kau beranjak menjadi kanak-kanak
Aku mengajakmu bersepeda dan kau duduk disadel depan
Kau tertawa-tawa kegirangan
Kau berteriak " Mama awas hati-hati jangan kecemplung sungai, banyak buayanya!"
Kau lucu nak....
Aku tak pernah lupapun
Saat pertama kali aku mengantarkanmu ke sekolah pertamamu
Kau tidak menangis keras pada saat itu
Kau hanya berdiri tegang didepan sekolah
Aku membisikkanmu bahwa kau akan baik-baik saja
Kau akan memiliki banyak teman
Mama akan menunggumu diluar sini
Mama tak akan meninggalkanmu
Ingatkah kau nak
Saat aku mengajarimu abjad
Seharian kita mengguntingi kertas karton
Seharian kita mewarnai kertas itu
Kemudian satu persatu ditempel ditembok kamar
Kau keras kepala sekali waktu itu
Aku hampir menyerah saat mengajarimu membaca dan menulis
Tapi aku bersyukur pada Tuhan saat kau bisa menuliskan
Kata pertamamu : "Mama"
Kau berhasil membuatku menangis bahagia nak
Dan lihatlah kau setelahnya
Tumpukan buku-bukumu menggunung
Setiap hari tak henti-hentinya kau membaca
Setiap aku pulang bekerja
Tak henti-hentinya kau bercerita apa saja kegiatanmu hari itu
Terkadang aku lelah dan aku hanya mendengarkan sambil lalu saja nak
Maafkan aku nak
Aku selalu merasa dirimu adalah aku nak
Dirimu yang suka menggambar
Dirimu yang suka membaca
Dirimu yang suka bercerita
Dirimu yang berimajinasi tinggi
Sekarang kau hanyalah pensil-pensil warna berceceran
Sekarang kau hanyalah gambar-gambar bisu
Sekarang kau hanyalah buku-buku tergeletak
Sekarang malam-malamku sunyi tanpa cerita celotehanmu
Sekarang malam-malamku dilengan kanan ini tak ada lagi kepalamu yang bersandar
Aku merindukan kepala bundarmu
Ubun-ubunmu yang berambut cokelat
Gigi kecil-kecilmu yang seperti pagar
Matamu yang bagian hitamnya lebih besar
Tangisan mengembikmu yang melengking
Ceruk diantara tengkorak kepalamu
Yang sering kugosok-gosok saat kau tertidur
Jari-jari pendekmu yang gemuk-gemuk
Aku sering mencandaimu kakimu seperti kipas karena lebar
Kau malaikat kecilku pemuja dinosaurus
Serasa ingin kuborong semua dinosaurus ditoko-toko itu
Kau si penyuka telur dadar
Membuatku harus selalu berkreasi agar tak bosan memasakkanmu telur dadar
Si pemasak bisa bosan
Si pemakan tak bosan-bosan
Ah anakku sekarang persediaan telur dikulkas tak cepat habis
Kenakalan-kenakalanmu...
Lompat-lompatlah ditempat tidur sesukamu
Berteriak-teriaklah sekeras yang kau suka
aku bahkan tidak akan keberatan jika kau menakaliku lagi
Ganggu aku lagi nak...
Saat aku sedang memasak kau menaiki meja
lampu tiba-tiba mati dan kau cekikikan berlari menjauh
Berceritalah padaku sebanyak yang kau bisa
Dan aku berjanji akan kudengarkan
Meski harus sampai ketiduran
Terkadang disaat pagi dihari libur sekolahmu
Dan kau tahu aku sedang bersiap-siap bekerja
Kau menjadi kesal
Kau melempar semua barang yang ada didekatmu
Dan kau tak ingin melihat wajahku saat aku ingin menciummu tuk berpamitan
Aku tahu kau marah
Maafkan aku nak
Tenggorokan mama juga tercekat
Maafkan aku nak, jika aku harus membagi kasih sayangku dengan adikmu
Maafkan aku nak jika saat malam kau ingin dipeluk
Tapi adikmu juga,aku harus memeluk adikmu
Pilihan yang sangat sulit untukku nak
Setelah adikmu tertidur
Aku segera menoleh kearahmu
Ternyata aku sudah terlambat
Kau sudah tertidur dengan menghadap tembok
Di saat itulah aku hanya bisa mengelus elus punggungmu
Memelukmu dari belakang
Mendoakan kau takkan merasa kekurangan kasih sayang dariku
Aku selalu menyayangimu lebih dari hidupku
Seandainya kau mengerti nak
Apapun akan kulakukan untuk membahagiakanmu
Tak tahukah kau, aku seringkali merasa depresi
Saat aku tak bisa memenuhi keinginanmu
Mungkin ini semacam kutukan untuk seorang ibu nak
Selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya
Meskipun harus sampai hancur lebur
Dan menghancurkan dirinya sendiri saat tak ada lagi yang bisa diberikan
Beberapa hari sebelum kau dibawa pergi
Saat aku sedang memasak
Kau tiba-tiba datang memelukku
Mengatakan kau menyayangiku
Kemudian kau berlari pergi
Kau membuatku terkejut
Kau berhasil membuat hatiku berbunga-bunga
Malam hari sebelum paginya kau dibawa pergi
Aku menjalinkan jemariku dengan jemarimu sangat erat nak
Sampai jemarimu melonggar
Dan kulihat kau sudah tertidur
Aku ternyata tak berhasil menautkan jemariku lagi dengan jemarimu setelahnya
Setiap hari kau membuatku menangis nak
Air mata yang meleleh tak kenal waktu dan tempat
Kapan aku bisa bertemu lagi denganmu nak
Orang-orang jahat itu merebutmu dariku
Mereka membentakku
Mereka memakiku
Tak memperdulikan air mataku
Teriakanku saat tanganku mencoba menggapaimu
Aku hanya ingin memelukmu
Mereka menarikku menjauh darimu
Aku yang menangis ini
Dihadapkan pada seringai kemenangan mereka
Manusia-manusia tak punya hati
Mendzolimi hati seorang ibu
Saat aku dipaksa pergi meninggalkanmu
Disaat itulah aku tahu
Setengah jiwaku sudah tercerabut paksa dari diriku
Mama akan berjuang untukmu nak
Aku takkan membiarkanmu berpisah dari adikmu
Aku takkan membiarkanmu berpisah dariku
Kerinduan yang berkepanjangan ini harus diakhiri
Semoga Allah menyertai ibumu ini
Allah Maha Adil
Langganan:
Komentar (Atom)