Rabu, 23 Mei 2012

Seorang Ibu

Terbangun pagi ini dengan perasaan gundah, terpikir akan masa depan, yang nampak menakutkan buatku, pundakku serasa terlalu kecil untuk memikul beban yang lebih besar daripada gunung, otakku pun serasa terlalu sempit untuk memikirkan masalah yang tak ada habisnya, aku merasa aku hanyalah aku, seorang perempuan yang terbatas dalam beberapa hal untuk melakukan sesuatu.

Pagi ini pun aku bercerita dari hati ke hati dengan seorang teman dekatku, seseorang yang bisa kuajak berbagi, dia pun berbagi kisahnya, kisah nyata mengenai seorang ibu yang suaminya meninggal, yang harus menghidupi empat orang anaknya yg masih sekolah, sementara ibu ini harus mengandalkan kekuatannya sendiri, bekerja keras agar anak- anaknya bisa bersekolah dengan baik. Membanting tulang, berjualan apapun yg dapat dijual asalkan halal. Mulai berjualan gorengan sampai menyewakan telepon. Tetapi hebatnya ibu ini mengajarkan anak-anaknya untuk hidup dengan sederhana. Mengajarkan anak-anaknya untuk memahami kehidupan seperti apakah yang sedang mereka jalani.Makan seadanya; berangkat sekolah dengan menggunakan angkutan umum, meski jarak antara rumah dengan sekolah jauh , uang saku pun seadanya.

Kehidupan pun terus berlanjut, sampai anak-anaknya beranjak dewasa, dan telah lulus sekolah serta mampu mencari penghasilan sendiri. Semuanya tidak akan terwujud jika mereka tidak memiliki seorang ibu yang tangguh seperti ibu itu. Seorang ibu yang sumber kebahagiaannya adalah hanya dari kebahagiaan anak-anaknya, jika anak-anaknya sudah cukup makan, sudah bersekolah dengan baik, dapat hidup dengan layak, maka tak ada kebahagiaan lain yang mampu menandingi semuanya itu. Seorang ibu yang egoisme nya telah mati. Seorang ibu yang tak pernah lagi membeli pakaian untuk dirinya sendiri. Seorang ibu yang tak pernah lagi bersenang- senang hanya untuk dirinya sendiri. Seorang ibu yang telah berkorban begitu banyak, dengan melupakan dirinya sendiri. Seorang pahlawan bagi anak-anaknya...

Darinya aku menangis, darinya aku menyadari bahwa aku tidak sendiri, masih banyak perempuan lain yag bernasib tidak lebih baik daripada aku, perempuan - perempuan tangguh, perempuan - perempuan kuat, darinya aku menyadari, kekuatan sesungguhnya sebenarnya bukan terletak pada kekuatan fisik, bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada kekuatan hati, hati yang sabar, hati yang ikhlas,hati yang tulus, hati yang tangguh, hati yang pantang menyerah akan keadaan, tetapi hati yang selalu berserah pada yg Maha Kuasa.

Seringkali hidup itu sulit, akan lebih mudah untuk mati; tapi pernahkah terpikir orang lain yang kita tinggalkan, terutama seorang ibu yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena ketidakberdayaan hidup. Karena depresi, meninggalkan anak-anaknya didunia fana yang berat ini. Siapa lagi yang mampu mencintai anak-anaknya dengan tulus selain seorang ibu, siapa lagi yang mau berkorban tanpa pamrih selain seorang ibu. Aku meyakini Tuhan memberkahi seorang ibu dengan kekuatan lebih, meski secara kasat mata seorang wanita nampak lemah,. Aku meyakini Tuhan menganugerahkan hati yang berlipat ganda bagi seorang ibu, hati yang tak kan mudah hancur, karena rasa cinta pada anak-anaknya seperti perisai yang menyelubunginya dari segala cobaan hidup.

Aku rasa banyak kisah ibu tangguh di luar sana, dan banyakpun kisah mengenai ibu depresi yang memilih mengakhiri hidupnya karena merasa tak sanggup lagi. Hidup adalah pilihan..tapi yang pasti seorang ibu semestinya mencintai anak-anaknya melebihi apapun, dan mestinya cinta itu menjadi perisai bagi hatinya, dalam mengahadapi cobaan apapun.

2 komentar: